
Pada masa perang lima hari lima malam di Palembang pada 1947, pasukan TRI dan Laskar Rakyat, yang dihujani artileri dari kapal perang Belanda di perairan Musi dan bombardir udara dari pesawat tempur Belanda, terpaksa menyingkir ke daerah rawa-rawa yang kini dikenal sebagai Jakabaring Sport City.
Para pejuang harus bersembunyi di rawa-rawa sedalam dada orang dewasa yang dipadati tanaman, agar terhindar dari serangan udara dan laut Belanda, beberapa pejuang malah nekat menyeberangi rawa-rawa sejauh sekitar 10 kilometer agar dapat mencapai pos pasukan TRI di jalan Poros ke Kayu Agung di dekat Kilang Minyak Plaju. Merupakan tindakan berbahaya bila melalui jalan aspal, dan akan mudah disasar pesawat tempur Belanda.
Setelah 1960-an, mulai ada warga yang menetap di daerah rawa-rawa ini, sebagian besar masuk dari arah Kertapati dan Plaju.
Warga Kayu Agung yang harus melewati daerah ini bila hendak ke Palembang mulai membuka lahan dari arah timur ke barat bersama dengan beberapa orang suku Jawa dan Batak pensiunan Pertamina Plaju, sementara itu warga Komering yang masuk melalui Kertapati membuka lahan dari arah barat ke timur.
Orang-orang inilah yang menjadi perintis di wilayah berawa yang pada tahun 2001 oleh Pemkot Palembang hendak dikembangkan menjadi pusat olahraga, gabungan inisial nama keempat suku itu akhirnya dijadikan nama wilayah, Jakabaring.
Pada 2001 pembangunan stadion utama dengan kapasitas 40.000 kursi dimulai. Pada 2004 di kompleks ini hanya ada stadion Gelora Sriwijaya, Gedung Olahraga Dempo dan Gedung Olahraga Ranau.
Setelah 17 tahun kemudian, pada 2018 Jakabaring Sport City telah memiliki 14 tempat olahraga,
Stadion Gelora Sriwijaya
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News