
Sejak membuka foodtrucknya, Agnes mengaku dirinya mendapat respon yang bagus dari para pelanggan.
“Respon bagus sekali, hampir semua pengunjung yang mencoba datang kembali dan memberikan pujian,” ujar perempuan kelahiran 2 Maret 1985 tersebut.
“Soto dan nasi goreng jadi makanan paling favorit, karena bisa dibuatkan tidak pedas,” sambung Agnes.
Menurutnya, untuk memasak kuliner khas Indonesia di Eropa khususnya Polandia adalah kesulitan mendapatkan bahan masakan. Namun kendala itu hanya di awal-awal saja. Kini Agnes sudah menemukan solusi dengan memesan online di toko-toko Asia.
“Pas awal pindah ke sini susah sekali beli bahan dasar buat masak. Kalau mau tempe harus pesan ke Berlin. Tapi sekarang sudah lebih gampang pesan online di toko toko Asian,” ungkap Agnes.
Logo unik foodtruck Agnes menggunakan pattern Songke Manggarai da siluet Mbaru Wunut, rumah adat Manggarai
Salah satu hal unik dari foodtruck milik Agnes adalah logonya yang menggunakan gambar rumah adat dan motif songke Manggarai. Agnes memilih logo tersebut karena ingin memperkenalkan budaya tradisional Indonesia dan agar terasa lebih dekat dengan tanah kelahirannya.
“Karena jadi rasanya dekat kampung, dan mau memperkenalkan pattern tradisional dari tanah lahir,” tutur Agnes.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News