
GenPI.co - Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menyoroti adanya wacana pemetaan masjid untuk menekan terorisme dan radikalisme.
Menurut dia, rencana tersebut akan sangat menguras tenaga, sumber daya manusia (SDM), dan berpotensi menambah anggaran baru.
"Total masjid di Indonesia lebih kurang 900 ribu. Jadi, langkah teknis pemetaan rasionalnya akan membutuhkan jumlah SDM yang besar, baik dilakukan BNPT, Polri, BIN, BAIS, dan mungkin melibatkan unsur Pemda, Masyarakat, Ormas, dan Akademisi," ucap Harits kepada GenPI.co, Senin (31/1).
BACA JUGA: Salah Satu Masjid Tertua di Batam Akan Dipoles Kembali
Harits menjelaskan dengan kondisi tersebut, terdapat potensi nomenklatur anggaran dana yang besar.
Oleh karena itu, dia mengatakan beban negara bisa bertambah melalui APBN serta APBD di luar dana hibah.
BACA JUGA: Fadli Zon Kritik Pemetaan Masjid, Kapolri Listyo Sigit Disebut
"Yang pasti monitoring masjid ketika berjalan akan membutukan waktu cukup lama dan terus-menerus," jelasnya.
Selain itu, Harits juga mengkritisi wacana pemetaan masjid yang bisa memicu polemik berkelanjutan.
BACA JUGA: Memanas, Kompleks Masjid Al-Aqsa kembali Diserbu Penduduk Israel
Sebab, kata dia, terdapat banyak pertanyaan yang seharusnya bisa terjawab sebelum wacana tersebut berjalan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News