
Situs Ratu Boko atau yang lebih dikenal dengan sebutan Candi Boko ternyata menyimpan bukti kejeniusan leluhur kita di masa lalu. Letaknya yang berada di atas sebuah bukit setinggi 196 meter dari permukaan laut rupanya memiliki alasan tersendiri.
Hidup di lingkungan yang tandus membuat nenek moyang kita harus cerdas menyiasati tantangan kekurangan air, solusinya adalah “nenek moyang menggali batuan induk dan memahatnya sedemikian rupa menjadi kolam-kolam tadah hujan” tulis BPCB DIY dalam akun Instagram mereka.
Bukan hanya mendapatkan jalan keluar untuk mengumpulkan air, nenek moyang kita juga mengajarkan cara memanfaatkan secara maksimal melalui kolam tadah hujan ini “ Antara satu kolam dengan kolam yang lainnya dihubungkan dengan saluran. Apabila air hujan yang tertampung di kolam yang berkedudukan lebih tinggi meluap, maka luapannya itu akan dialirkan melalui saluran penghubung ke kolam yang letaknya lebih rendah. Jadi, tidak ada air yang terbuang percuma. ” Tulis BPCP DIY lagi.
Air yang ditampung ini lalu dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan minum, masak, dan mandi, serta ritual keagamaan.
BPCB adalah singkatan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya, sebuah Unit di lingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan.
Tugasnya adalah untuk melakukan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya dan yang diduga cagar budaya yang berada di wilayah kerjanya.
Baca Juga : Kokohnya Candi Prambanan dari Atas Bukit
Candi Boko berada di wilayah kerja BPCB DIY dan dikelola oleh sebuah BUMN bernama PT Taman Wisata Candi, perusahaan yang sama juga mengelola Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News