
GenPI.co - Salah satu pertempuran paling sengit di awal era 1990-an adalah Perang Teluk. Kala itu, Irak dbawah pimpinan Saddam Hussein diborbadir habis-habisan oleh Amerika dan tentara Sekutu. Irak dihajar invasi yang dilakukannya terhadap Kuwait.
Selain karena aksi Irak mengangkangi kedaulatan Kuwait, ada kisah yang menjadi salah satu hal yang juga melatari serangan skala besar AS dan sekutu terhadap negara itu. Kisahnya mengenai seorang remaja 15 tahun yang bersaksi di depan Congressional Human Right Caucus (CHRC).
BACA JUGA: Aksi Nekat Bocah 15 Tahun ini Membuat 2 Ribu Nyawa Terselamatkan
Remaja itu bernama Nayirah al-Sabah. Disiarkan ke seluruh dunia oleh ABC’s Nightline dan NBC Nightly News, ia mengisahkan kejadian pahit yang terjadi di Kuwait selama pendudukan Irak sambil menitikkan air mata.
Nayirah al-Sabah mengaku melihat tentara Irak masuk ke rumah sakit memindahkan ratusan bayi dari inkubator dan membiarkan mereka mati di lantai.
Kesaksian remaja itu memicu murka AS. Presiden George Bush Sr berkali-kali mengutip pernyataan itu saat menghimpun dukungan dari negara-negara sekutu untuk menggempur Irak.
Alhasil, 700 ribu tentara sekutu menyerbu Kuwait yang dipertahankan oleh 300 ribu personil tentara Irak. Sekutu menamakan aksi yang berlangsung 16-17 Januari 1991 itu sebagai Operasi Badai Gurun.
Situasi genting di Kuwait akibat peperangan dua pasukan asing itu berlanjut hingga bulan berikutnya. Sekitar 100 ribu tentara Irak dilaporkan tewas. Pada 27 Februari 1991, Kuwait berhasil dibebaskan sepenuhnya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News