
GenPI.co - Setelah tiga hari terpanas di Bumi yang pernah tercatat, PBB menyerukan serangkaian upaya untuk mencoba mengurangi jumlah korban manusia akibat suhu yang membumbung tinggi dan menyengat, dengan menyebutnya sebagai wabah panas ekstrem.
"Jika ada satu hal yang menyatukan dunia kita yang terpecah belah, itu adalah bahwa kita semua semakin merasakan panasnya," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Kamis dalam sebuah konferensi pers.
Dilansir AP News, ia menyoroti bahwa hari Senin adalah hari terpanas yang pernah tercatat, melampaui rekor yang ditetapkan sehari sebelumnya.
BACA JUGA: Rusia Adakan Pertemuan PBB Soal Kerja Sama Global, AS Sebut Kemunafikan
"Bumi menjadi makin panas dan makin berbahaya bagi semua orang, di mana pun."
Hampir setengah juta orang meninggal setiap tahunnya di seluruh dunia akibat kematian akibat cuaca panas, jauh lebih banyak daripada cuaca ekstrem lainnya seperti badai, dan ini mungkin merupakan perkiraan yang terlalu rendah, menurut laporan baru oleh 10 badan PBB.
BACA JUGA: PBB Sebut Badai Pasir dan Debu Makin Meningkat dari Afrika hingga China Utara
“Miliaran orang menghadapi epidemi panas ekstrem, gelombang panas yang makin mematikan, dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius di seluruh dunia,” kata Guterres.
“Itu sama dengan 122 derajat Fahrenheit dan setengahnya mendidih.”
BACA JUGA: PBB Menuntut Rusia Segera Mengembalikan Pabrik Nuklir Terbesar Eropa ke Ukraina
Peringatan mengerikan itu datang setelah jeda yang hampir tidak terasa dalam rekor suhu panas global yang terjadi berturut-turut.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News