
Malahan, anak dari pasangan Usman dan Yuharli itu, semakin meningkatkan usahanya. Usaha Wella yang kemudian gencar di promosikan oleh media itu akhirnya kemudian mampu mengantarkan dirinya meraih pemuda pelopor terbaik di Kabupaten Tanah Datar dan Provinsi, meraih pemuda inspiratif juara tiga di provinsi dan juara pertama di kabupaten, dan masuk nominasi Kalpataru 2019.
Wella mengatakan, setidaknya untuk satu hasil karyanya dijual dengan harga bervariasi mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 2 juta. “Untuk pembuatannya juga mengalami tingkat kesulitan yang berbeda, semakin banyak lekuk tubuh hewan yang dibuat, semakin rumit pembuatannya,” jelas Wella.
Untuk ukuran kecil, Wella mampu menghasilkan 10-20 ekor hewan perhari. Namun, untuk ukuran yang besar Wella mampu memproduksi 5-10 ekor perhari. Usaha yang digelutinya itu, juga saat ini menggunakan tenaga kerja yang diperbantukan untuk mencari bahan baku. “Jerami kadang dapat diminta saat warga panen, ada juga yang dibeli. Namun, untuk pernak-pernik di beli ke Bukittinggi,” jelasnya.
Wella saat ini mengakui jika dirinya kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya. Oleh karena itu, juga berimbas pada hasil karyanya. Wella berharap usahanya mampu berkembang dan menampung tenaga kerja lebih banyak dan mampu menghasilkan hasil karya yang lebih bagus dan merambah pasar lebih besar.
Saat ini hasil karya Wella sudah merambah pasar hinga ke provinsi tetangga seperti Pekanbaru, Teluk Kuantan, Bangkinang, Padang, Pasir Pangiraian. Wella memasarkan hasil karyanya sendiri bersama keluarganya terutama saat libur lebaran. Wella juga memasarkan karyanya melalui media sosial yang dimilikinya. Ia juga tengah mengurus hak cipta hasil karyanya itu agar tidak di klaim oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News