
Salah satu buah kearifan lokal masyarakat Batak adalah rumah tradisional Jangga Dolok. Jumat (7/12) silam, rumah tradisional nan unik ini dikunjungi peserta acara Sarasehan Sinergisitas Diaspora Batak. Rumah adat ini berada di Kampung Lumban Binanga, Desa Jangga Dolok , Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir.
Di lokasi, peserta sarasehan disambut dengan tari Tortor Utte Manis yang diiringi oleh musik Tagading. Penyambutan tarian ini sukses menarik perhatian peserta, mereka banyak mengambil gambar foto dan video menggunakan kamera ponsel maupun kamera
Selain disambut dengan tarian, para peserta juga disajikan penganan khas Batak seperti Kue Lappet. Kue ini dibungkus daun pisang tersebut terbuat dari tepung beras tumbuk, gula merah dan kelapa parut. Penganan ini biasa dihidangkan pada saat acara pertemuan, pesta, dan acara acara adat. Mereka terlihat senang dan sangat menikmati sajian kuliner khas Batak ini.
Baca juga: Sinergisitas BPODT dan Diaspora untuk Wisata Danau Toba
Salah satu pelaksana pembangunan Rumah Tradisional Jangga Dolok, Sargondoli Manurung menjelaskan,Desa Jangga Dolok ini terkenal dengan rumah Batak yang tertua di Tobasa. Rumah ini berumur sekitar 250 sampai 300 tahun. Pada tahun 2016 rumah adat batak ini pernah terbakar. Ada sekitar 5 rumah yang terbakar. Kemudian dibangun sesuai dengan yang aslinya selama 2 tahun dan selesai pada tahun 2018.
"Nenek moyang kami dahulu, membangun rumah ini selama 6 tahun secara gotong royong. Dikerjakan secara manual dengan alat alat tradisional, tetapi sekarang ini teknologi sudah maju sehingga pengerjaan bisa lebih cepat," kata Sargondoli.
Menurutnya ada 3 warna dalam rumah adat batak ini. Yakni warna merah, warna putih dan warna hitam. Semua cat menggunakan cat tradisional batak. Cat warna merah dibuat berasal dari batu hula, kemudian cat warna hitam dibuat dari tumbuh- tumbuhan yang dibakar. Ada sekitar 10 jenis tumbuhan dan ditumbuk.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News