
GenPI.co - Entah apa yang terjadi dengan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu. Bupati perempuan berusia 52 tahun ini muncul saat momen pemanggilan sejumlah nama ke Istana Merdeka Jakarta oleh Presiden Joko Widodo. Lalu kemudian, ia pergi begitu saja.
Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB, bupati yang kerap disapa Tetty ini sudah berada di kompleks Istana. Ia mengenakan kemeja putih dan celana kerja hitam layaknya orang-orang lain yang datang setelahnya. Mungkin siap-siap siapa tahu ditunjuk jadi menteri oleh presiden.
BACA JUGA: Jika Fachrur Razi Maju, Jatah Menag Tak Lagi Milik PPP
Saat akan masuk ke Istana, Bupati yang cantik itu sempat bersapa para wartawan. Ia berseloroh bahwa setelan hitam putih yang dikenakannya itu adalah pakaian kerja sehari-hari.
Beberapa saat berada di dalam istana, Tetty tak jua keluar. Hingga muncul sosok lain yakni Nadiem Karim yang mengaku mendapat panggilan Presiden. Rupanya, Tetty pergi dari kompleks itu dengan cara menyelinap dari pintu samping Istana. Ia juga dikatakan tak bertemu Presiden Joko Widodo.
Kabar lain yang beredar, Tetty Paruntu datang ke istana tanpa undangan presiden. Ia datang menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto lantaran direkomendasikan oleh Partai Golkar untuk menjadi menteri.
Tetty Paruntu adalah sosok yang unik dalam menapaki karier politiknya. Ia berhasil menjadi bupati di Minahasa Selatan selama 2 peridoe berturut-turut. Di tahun 2010 menggunakan kendaraan Partai Golkar ia menjadi Bupati berpasangan dengan Sony Frans Tandaju. Sementara pada Pilkada 2015, ia justru menggunakan kendaraan PDIP dan kembali terpilih
Tetty Paruntu saat mengikuti pilkada 2015 sebagai petahana berpasangan dengan Franky Wongkar unggul dengan dua pasangan calon lain yaitu, Karel Lakoy-Fredey Rawis dari Partai Golkar dan John Sumual-Annie S. Langie dari Gerindra-Demokrat.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News