
GenPI.co - Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan perkebunan karet harus dijaga keberlanjutannya.
Hal ini terkait dengan impor bahan olahan karet (bokar) oleh pabrik pengolahan.
Sejak pertengahan 2021, sejumlah pabrik karet di Sumsel terpaksa mengimpor bokar dari Vietnam dan Myanmar.
BACA JUGA: Kekurangan Bahan Baku, Pabrik Karet Sumsel Impor dari Vietnam
Pasalnya, pabrik-pabrik tersebut kekurangan bahan baku dari petani. Kondisi ini diduga karena menurunnya gairah petani untuk memanen getah.
Sebab, harga yang diterima terbilang rendah dan menurunkan produktivitas kebun yang berusia sudah tua.
BACA JUGA: Industri Hilirisasi Karet Dioptimalkan, Petani Riau Dapat Untung
Herman berpendapat, kondisi ini harus disikapi dengan bijak. Apabila tidak disikapi dengan bijak, maka semakin banyak petani karet yang beralih menjadi petani sawit.
“Sebenarnya jika beralih dari kebun ke kebun itu tidak masalah. Asal jangan dari kebun ke perumahan. Tapi kami juga tidak ingin komoditas andalan karet ini terganggu,” ujar Herman, Rabu (19/1).
BACA JUGA: Haji Lulung Dimakamkan di Karet Bivak
Sejauh ini, karet merupakan komoditas andalan Sumatera Selatan untuk ekspor selain minyak sawit (CPO) dan batu bara.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News