
Di Sulawesi Barat, ada sebuah wilayah adat bernama Tanah Lotong. Nama tersebut mangandung arti tanah hitam, atau tanah yang subur untuk bercocok tanam dan mengembangkan. Di atas tanah ini, sebuah peradaban panjang dengan kebudayaannya yang unik tercipta.
Tana Lotong meliputi beberapa kampung. Kalumpang sebagai pusat dan Karataung, Karama, Bonehau, dan Sandena. Kampung-kampung ini terletak di sebuah lembah subur dengan sumber mata air segar yang melimpah di dekat hulu Sungai Karama, sekitar 135 km dari ibukota provinsi Sulawesi Barat, Mamuju. Sisi utara Tana Lotong berbatasan dengan Toraja. Sementara di timur berbatasan dengan Luwu. Lalu di batas selatan berbatasan ada Mamasa, dan di barat berbatasan dengan Kalukku.
Para pemimpin lokal di Tana Lotong disebut Tobara. Mereka berperan sebagai yang mengatur pemerintahan dan hukum adat di masing-masing kampung yang ada di Tana Lotong. Tobara ini memiliki hirarki. Tobara Pondan adalah yang tertinggi, dengan Tobara Timba sebagai wakilnya dan Tobara Topakkalu juga sebagai wakil Tobara Pondan khusus wanita. Ada juga Tobara Topakkalu, seorang pemimpin yang mengatur kapan masa tanam dimulai dan siapa yang diizinkan bercocok tanam. Sementara Tobara Parau bertanggung jawab untuk melakukan ritual keagamaan dan tolak bala.
Para tetua adat di Tanah Lotong. (Foto: timurnusantara.com)
Tana Lotong memiliki hutan adat yang terbagi dua yaitu Hutan Paumaan yang merupakan hutan tempat berladang, di hutan ini warga Tana Lotong dilarang bercocok tanam selama 5 bulan setelah panen terakhir, tujuannya agar bekas lahan kembali ditumbuhi tanaman dan menjaga kesuburan tanah. Jenis hutan kedua adalah Hutan Puasuan yang khusus senagai hutan tempat berburu.
Tana Lotong bukanlah wilayah adat baru. Sejarahnya bisa ditelusuri sampai masa purba. Dalam wilayah Tana Lotong didapati Situs Minanga Sipakko dan Kamassi di Kalumpang,
Kedua situs ini diperkirakan dari masa 3.800 tahun yang lalu, yang merupakan situs tertua dari 12 situs purbakala lainnya yang ada di Tana Lotong.
Tertarik ke Tana Lotong? Traveler bisa mendarat dahulu di Mamuju dan melanjutkan dengan perjalanan darat yang seru
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News