
Dan bisa diterapkan di semua sektor mulai dari ticketing, pajak, atau untuk memenuhi kebutuhan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kawasan Luar Pura Uluwatu.
Trisno Nugroho menambahkan Kawasan Luar Lura Uluwatu sebagai tujuan wisata utama, merupakan wilayah yang paling merasakan dampak dari COVID-19 dan diharapkan segera dapat bangkit kembali.
“Oleh karena itu, Bank Indonesia sangat mendukung implementasi penerapan digital di era normal baru. Melalui penerapan digital ini diharapkan secara perlahan ekonomi Bali kembali bangkit," ujar Trisno Nugroho.
Trisno menilai, dipilihnya Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu ini sangat tepat, karena merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan dengan rata-rata kunjungan sebelum pandemi sebanyak 6.000-8.000 wisatawan perharinya.
"Meskipun sempat ditutup untuk beberapa waktu tapi saya yakin, kedepannya Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu akan tetap menjadi tujuan wisata yang tidak mungkin dilewatkan oleh wisatawan saat berkunjung ke Bali karena memang menonton pertunjukkan tari kecak memiliki sensasi tersendiri sambil menikmati keindahan sunset di Laut Hindia Selatan dari tebing karang tinggi Uluwatu ini,” kata Trisno.
Sementara itu, Manager Pengelola Uluwatu, I Wayan Wijana menjelaskan dari lima daya tarik wisata yang ada di Uluwatu, tari kecak yang menjadi generator pengunjung yang terbanyak.
“Kalau tidak ada pertunjukan tari kecak, Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu sangat sepi. Kami yakin dengan adanya tari kecak di era normal baru, pariwisata di Bali khususnya Uluwatu akan bertumbuh dan berkembang lagi,” ujar Wayan Wijana.
Ada beberapa perubahan terhadap tari kecak era normal baru yang disesuaikan dengan protokol kesehatan antara lain penari yang tidak memakai topeng wajib menggunakan pelindung wajah atau masker, jumlah penari dikurangi dan koreografi tarian di atur sedemikian rupa untuk menjaga jarak.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News