Pulau Bangka: Menawan Penuh Kenangan

Pulau Bangka: Menawan Penuh Kenangan - GenPI.co
Pantai Penyusuk

Eksotisme alam bukan satu-satunya keindahan yang disuguhkan di Belinyu ini.  Di pusat kecamatan terderet beberapa bangunan tua khas pecinan. Belinyu memang didominasi  masyarakat Tionghoa. Di tempat itu  saya sempat berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto. Ingin rasanya sejenak bersilaturahmi dan berbincang santai dengan salah satu penghuni rumah.  Namun mereka tampaknya sedang beristirahat siang sehingga niat itu pun saya urungkan. 

Pantai Tikus adalah tujuan saya selanjutnya. Lokasinya seraha dengan perjalanan pulang ke Sungailiat. Entah kenapa temapt ini dinamai pantai Tikus.  Dari kisah masyarakat setempat, saya mengetahui dahulu kala banyak penyelundup timah melewati pantai ini dikarenakan banyak sekali jalan tikus yang aman untuk beroperasi. Mitos angker yang terdengar semata-mata untuk memuluskan jalan para penyelundup agar tidak diketahui masyarakat.

Di sekitar pantai ini ada sebuah pagoda vihara. Bangunan tempat ibadah itu merupakan pagoda terbesar di pulau Bangka. Pagoda vihara yang bernama Puri Tri Agung ini seolah berdiri menantangi Pantai Tikus. Tampil dengan megah baik di dalam maupun luar, Vihara ini  tak hanya dikunjungi oleh mereka yang mau berdoa saja. Banyak juga wisatawan yang penasaran dengan keindahan arsitekturnya.

Berbeda dengan pantai Penyusuk, di Pantai Tikus ini tidak tampak satupun pedagang.  Jadi alangkah menyiapkan bekal makanan dan minuman jika ingin mengunjungi tempat  ini. Menaiki punggung sebongkah batu granit besar di sisi tengah bibir pantai,  pemandangan keseluruhan pantai akan tersaji. Hamparan pasir putihnya yang luas serta biru kehijauan air laut mengundang hasrat untuk merasakan kesegarannya. Namun  sayang sekali, satu-satunya pakaian adalah yang melekat di tubuh. Tak ada baju ganti.  Lepas dari itu, hati sudah sudah sangat terpuaskan oleh landscape fotografi yang saya dapatkan di pantai yang sangat eksotis ini.

Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini. Menikmati eksotismenya yang sungguh menggelorakan hati. Namun apadaya, saya harus segera melaju ke Bandara Depati Amir.  Sore itu saya harus ikut penerbangan pulang menuju Jogja.

Saat perjalanan pulang, saya kembali terhanyut oleh keindahan sisi lain Bangka. Sebuah jembatan yang menghubungkan Kota Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka membuat saya berhenti sejenak. Kembali kamera saya menjalankan fungsinya, mengabadikan sisi Bangka dari atas jembatan tersebut.

Bangunan konstruksi penghubung dua tempat itu dinamakan jembatan EMAS. Mulanya saya berpikir bahwa nama jembatan ini diambil dari komoditas tambang emas di Bangka. Ternyata saya salah.  Nama EMAS diambil dari singkatan Eko Maulana Ali Soeharso, nama mantan Gubernur Bangka Belitung. Jembatan itu memiliki panjang 785 meter dengan lebar 23 meter. Ia membentang di atas aliran Sungai Pangkal Balam, wilayah Ketapang, Pangkalpinang. Jembatan ini akan membuka tutup jika ada lalu lintas kapal besar yang melewati sungai Pangkal Balam. Indah sekali untuk diabadikan. Dari atas jembatan ini pemandangan keindahan alam pantai Air Anyir dapat dinikmati. Jembatan yang menjadi ikon baru di pulau Bangka ini menjadi kebanggaan warga masyarakat disana.

Tak lengkap rasanya mengunjungi suatu daerah tanpa membeli oleh-oleh khas disana. Kerupuk kemplang dan kerupuk siput jari menjadi pilihan saya sebagai oleh-oleh kuliner. Juga beberapa gantungan kunci yang terbuat dari timah, suatu yang sangat khas dari Pulau Bangka.  Waktu pun beranjak sore, dan aku bergegas menuju bandara Depati Amir untukmengejar keberangkatan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Sebelumnya
Berita Selanjutnya