
Pertamina sebagai pemilik lokasi panas bumi harus menjual panas itu semahal-mahalnya. Agar Pertamina untung besar.
PLN harus beli panas itu semurah-murahnya. Agar PLN tidak rugi. Begitulah bertahun-tahun. Yang lebih rugi akhirnya Indonesia. Geotermal milik Pertamina itu tidak bisa segera berproduksi.
Kalau tidak salah itu menyangkut 9 lokasi. Atau 12. Listrik geotermal itu murah. Bersih. Green.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan soal Kota Terkumuh India: Ruwet Indah
Bisa berproduksi siang malam, 24/7 atau 360/1. Selama panasnya masih ada. Puluhan tahun.
Hari itu saya berkantor di Pertamina. Pinjam salah satu ruang di situ. Sambil menunggu dua Dirut tersebut bersepakat soal harga.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Akbar Sitorus
Saya hanya memberi kata pengantar singkat: perlunya segera ada kesepakatan. Selebihnya terserah mereka. Yang penting jangan ada yang terluka.
"Tidak ada yang membawa pisau, kan?" tanya saya sambil bergurau. Lalu menutup pintu.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan soal Ponpes Al Zaytun: Zaytun Sinagog
Belum sampai lima jam, keduanya sudah mencapai kata sepakat. Kini, tentu, semua geotermal di 9 lokasi itu sudah jadi. Buktinya Indonesia sudah bisa menjadi nomor dua dunia. Atau belum.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News