Catatan Dahlan Iskan: Nasi Bungkus

Catatan Dahlan Iskan: Nasi Bungkus - GenPI.co
Dahlan Iskan. Foto: Disway

Seperti juga sushi, pada dasarnya sushi itu kan juga nasi campur. Ada nasi. Ada lauk di dalamnya. Gayanya saja beda: nasinya digulung, lauknya di bagian paling dalam.

Lalu dibungkus. Bungkusnya saja yang beda: rumput laut. Walhasil sushi itu nasi campur dan nasi bungkus juga.

Kalau mau dibuat dalam bahasa Inggris bisa saja nasi bungkus di Garam Merica ini, kata William,  dijual dengan istilah Barat:  Indonesian Rijsttafel.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: Preman Tuan

Dengan kata Rijsttafel orang bisa langsung tahu bahwa itu gaya penyajian masakan Prancis. Toh isinya sama: nasi campur.

Tapi William mau khas Indonesia. Aslinya. Sekalian ekspor budayanya. Sebenarnya bukan itu benar yang membuat ide nasi bungkus lahir di Sydney. Lebih tepatnya: karena kepepet.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: Bulan BK

Proses membuat masakan Indonesia itu ruwet. Jatuhnya mahal. Tenaga kerja mahal. Sewa tempat mahal.

Maka harus dicari cara agar bisnis bisa jalan. Harus dibuat sederhana. Maka gaya nasi bungkus adalah jalan keluarnya.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan soal Kereta Cepat: Bulan Madu

Pengunjung resto warteg di Sydney ini tinggal pilih. Nasi dengan dua lauk atau tiga lauk. Ada daftar lauk di menu. Ada pilihan kelompok daging. Ada pilihan kelompok sayur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Sebelumnya
Berita Selanjutnya