Catatan Dahlan Iskan: Zaytun Ibrani

Catatan Dahlan Iskan: Zaytun Ibrani - GenPI.co
Dahlan Iskan. Foto: Disway

"Kalau kita tadi belok kanan ke mana?" tanya saya.

"Ke pabrik beras, cold storage, dan pabrik air minum dalam kemasan," jawabnya.

Air minum untuk 8.000 penghuni madrasah ini diproduksi sendiri. Beras juga diolah sendiri dari sawah sendiri. Kalau menyembelih ayam sekaligus sekian ribu, lalu dimasukkan cold storage.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: Zaytun Salmon

Kami pun tiba di wisma tamu. Ramai. Banyak orang tua mahasiswa bermalam di situ. Besok paginya (Sabtu) ada wisuda sarjana angkatan ketiga.

Penerangan di sekitar wisma ini kurang terang. Saya pun berpikir ke masa-masa tahun 1997 ketika wisma ini dibangun: Indonesia masih kekurangan listrik.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: I-baru CSIS

Mungkin saat itu sulit mendapat sambungan daya besar dari PLN. Lalu penerangan yang kurang terang ini dianggap biasa, pun setelah Jawa kelebihan listrik.

Wisma ini seperti hotel bintang tiga. Enam lantai. Lift-nya dua buah. Lobinya besar. Kamar-kamarnya besar. Ranjangnya besar. Kursi-kursinya besar. Berarti wisma ini sudah berumur 25 tahun. Sudah waktunya direnovasi ringan.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: Pedoman Stemcell

Saya membayangkan betapa mewahnya untuk ukuran 25 tahun lalu di pedalaman Indramayu. Jangan-jangan itu gedung ber-lift pertama di kabupaten itu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Sebelumnya
Berita Selanjutnya