
Langkah baru Shofa lainnya adalah: kajian buku. Ia memilih kajian ushul fikih. Bukan tafsir Quran, bukan hadis, dan bukan pula tauhid.
Dalam bahasannya itu Shofi malah tidak menyinggung sama sekali ayat-ayat terkait radikalisme.
"Mereka justru akan bilang, 'itu kan tafsir Anda' begitu," ujar Shofa.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan soal Dokter Hewan Yuda: Marah Dewi
Dengan kajian buku ushul fikih, mereka menjadi tahu bahwa untuk menafsirkan satu ajaran itu tidak mudah. Perlu banyak bacaan. Perlu banyak ilmu pendukung. Perlu nahwu dan shorof.
Dengan demikian mereka tidak mudah lagi menafsirkan Quran sesuai dengan pikirannya. Terserah mereka mau menafsirkan apa saja asal sudah tahu syaratnya. Dengan demikian mereka tidak mudah disodori tafsir tertentu. Kini kajian ushul fikih itu dilakukan secara online.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan soal Pulau Widi: Rifda Widi
"Mereka tertarik. Ternyata mereka tidak pernah belajar ilmu ushul fikih," ujar Shofa.
Shofa sudah menulis banyak buku. Tapi ia lagi menyiapkan satu buku lagi. Tebal. Penting. 700 halaman lebih. Ia buat buku terbarunya itu nanti sebagai monumen hidupnya. Itu akan menjadi karya ''master peace'' dalam hidupnya. Ia sudah punya judulnya: Risalah Jihadis.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan soal Kepulauan Widi: Lelang Widi
Belakangan Shofa mulai aktif di NU wilayah DKI Jakarta. Ia jadi pengurus lembaga bahtsul masail. Yakni forum yang membicarakan posisi kasus-kasus masa kini dalam hukum Islam.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News