
“Kami belum melihat anak-anak tuna rungu bisa memiliki akses pendidikan bermutu, termasuk akses pendidikan Al Qur’an. Perubahan dari sanggar menjadi pesantren karena kami menilai anak tuna rungu juga butuh ilmu tentang ibadah yang benar serta berlatih konsisten melaksanakan jadwal ibadah mereka masing-masing,” tegasnya.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan pangan santri, pesantren Abata membutuhkan sedikitnya 74 kilogram daging ayam per bulan, 150 kilogram sayuran, 330 kilogram buah-buahan, serta 74 kilogram telur.
“Kurang lebih kami butuh dana untuk kebutuhan makan 49 santri adalah sekitar tujuh juta rupiah per bulan. Tentunya ini belum termasuk kebutuhan operasional untuk menggaji guru serta lainnya.”
BACA JUGA: PBNU Dukung Jokowi Jadi Bapak Santri Indonesia Karena Berjasa Bagi Dunia Pesantren
Ustad Lisin pun bersyukur selama ini pesantren asuhannya tersebut banyak yang membantu meskipun pihaknya tidak pernah memasang iklan.
“Kami berharap, santri-santri kami ini kelak punya masa depan yang cerah sebagaimana anak-anak normal lainnya. Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga,” tutupnya.(*)
BACA JUGA: Pesantren di Indonesia Harus Siap Hadapi Tantangan Teknologi
Jangan sampai ketinggalan! Kamu sudah lihat video ini ?
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News