
"Tekanan terhadap harga CPO/TBS domestik tampaknya sulit diimbangi oleh peningkatan penyerapan CPO di dalam negeri karena tambahan penyerapan CPO di dalam negeri tidak terlalu besar dibandingkan dengan produksi CPO dalam negeri," ujarnya.
Hal itu, kata Muhamadyah, masih ditambah diberlakukan pungutan ekspor secara nyata di industri hilir, terlebih industri biodiesel masih tetap menikmati tambahan manfaat (better-off) dari sebelumnya.
Sementara itu, produsen CPO/TBS harus menderita (worse-off) akibat kebijakan itu.
BACA JUGA: Rugikan Petani Sawit, APPKSI Minta Pungutan Ekspor CPO Dihapus
Mengacu pada pengalaman Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya, tambahnya, nilai penurunan manfaat yang diderita produsen CPO/TBS lebih besar dari tambahan manfaat yang dinikmati industri hilir biodiesel dan konsumen.
Alhasil, secara keseluruhan Indonesia dirugikan (worse-off).
BACA JUGA: Indonesia Terbitkan Izin Ekspor Sawit, Harga CPO Ambruk
Menurutnya, pihak lain yang menikmati kebijakan pungutan ekspor minyak sawit Indonesia adalah negara eksportir minyak sawit selain Indonesia, seperti Malaysia, Thailand, negara-negara Afrika, dan yang lainnya.
Dia menjelaskan kenaikan harga CPO dunia akibat pungutan ekspor Indonesia akan membuat negara-negara tersebut menikmati harga CPO dunia yang lebih tinggi.
BACA JUGA: Pasar Nantikan Ekspor Sawit RI, Harga CPO Turun Tajam
"Akhirnya akan menciptakan krisis ekonomi jika petani sawit dan industri perkebunan sawit terus merugi. Sehingga berdampak pada kredit macet pada perbankan nasional," kata Muhamadyah.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News