
Menurut Menteri Arief Yahya, kondisi pasar sudah berubah. Hampir 63% transaksi jasa travel dilakukan secara online, sehingga bila travel biro tidak segera menyesuaikan diri ke digital, atau tetap konvensional, maka nasibnya akan seperti Wartel (Warung Telekomunikasi).
“Perubahan pasar ini dipengaruhi oleh gaya hidup wisatawan yang juga berubah. Wisatawan dalam melalukan perjalanan (travelling) tak lepas dari digital, mulai dari mencari dan melihat-lihat informasi (look), kemudian memesan paket wisata yang diminati (book), hingga membayar secara online (pay). Sekitar 70% wisman melakukan search and share menggunakan media digital,” kata Menpar Arief Yahya.
Digital tourism, menurut Menpar Arief Yahya, menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 fokus pasar yang tersebar di 26 negara.
“Aplikasi ini memudahkan wisatawan datang ke Banyuwangi, semoga ke depannya bisa terkoneksi dengan lainya. Seperti fasilitas hotel, airlines, homestay, atraksi yang ada di Banyuwangi,” kata Menpar Arief Yahya. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News