
"Masyarakat yang membangun desa sendiri dari homestay pertamanya. Lalu di dalam homestay-nya dikasih atraksi wisata seperti membuat kerajinan, membuat kue, jadilah lama nginapnya," tutur Bupati Anas.
Anas melanjutkan, momen dan kesempatan ini bisa menjadi tempat untuk menggalang solidaritas membangun daerah dan saling bertukar informasi.
“Semua bisa membangun jejaring untuk bersama-sama mengembangkan daerah. Yang sudah sukses jadi pengusaha di Jakarta, misalnya, bisa bermitra dengan UMKM di Banyuwangi. Bukan semata-mata bisnis, tapi tergerak oleh cinta daerah,” ujarnya.
Dalam acara itu, disediakan beragam kuliner lokal secara gratis. Berbagai makanan khas Banyuwangi disajikan, mulai pecel pitik, rujak soto, nasi cawuk, lontong sayur, hingga sayur kelor sambal sereh. Sejumlah atraksi seni-budaya setempat juga akan ditampilkan.
Acara rutun tahunan ini selalu dihadiri oleh Menpar Arief Yahya. Hadir pula anggota DPR, Nihayatul Wafiroh, Konsul Keuangan dan Bea Cukai di Konsulat Jenderal Indonesia di Hong Kong, Imik Saputro, dan anggota Dewan Komisioner OJK, Ahmad Hidayat.
Para perantau yang hadir tercatat dari Korea Selatan, Selandia Baru, Jepang, Taiwan, Hong Kong. Juga dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Bali, Jakarta, dan Bandung.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News