GenPI.co -- Jargon Halal Tourism (pariwisata halal) saat ini semakin kerap menghiasi beragam berita terkait pariwisata. Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak, kini menggunakan jargon ini di banyak kesempatan branding.
Salah satu destinasi wisata nusantara yang menggunakan branding ini, adalah Lombok. Jika di lima tahun sebelumnya, Lombok lekat dijuluki Pulau Seribu Masjid, kini ada tambahan ikon baru. Destinasi Halal terbaik. Identitas yang bukan tak berdasar.
Julukan seribu masjid bisa jadi salah satu sebab tren pariwisata halal segera melekat pada Lombok. Di pulau terbesar kedua dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, keberadaan masjid, serupa kewajiban hadirnya pasar-pasar di tengah satu komplek perumahan. Bahkan, berkembang ujar-ujar, setiap perempatan jalan di Lombok, akan selalu ada satu masjid. Pembedanya hanya diskala luas dan penyebutan. Masjid Jami’ atau Sasjid Agung, untuk masjid yang didirikan paling awal, terluas dan berkaitan erat dengan garis keluarga terkaya di satu wilayah tertentu.
Masjid di Desa Padamara
Rekam Penghargaan Pariwisata Halal Lombok
Dirunut lima tahun ke belakang, terhitung telah ada sekitar empat penghargaan pariwisata halal tingkat dunia yang diterima Lombok.
Paling pertama, pada tahun 2015 lalu, dua predikat halal diraih diajang penghargaan Wolrd Halal Travel Summit 2015 di Abu Dhabi. Dua kategori yang diraih, pertama, Wolrd Best Halal Destination. Kategori ini mengungguli Abu Dhabi diposisi 2, Istambul diposisi 6 dan Kuala Lumpur yang berada di posisi ke-7. Kategori kedua, yaitu, World Best Halal Honeymoon Destination, juga mengungguli Kuala Lumpur, Krabi, Antalya dan Abu Dhabi.
Setahun berselang, diajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016, Lombok kembali diganjar tiga penghargaan World Best Halal. Desa Sembalun, mengulang penghargaan sama, yaitu World Best Halal Honeymoon Destination. Dua lainnya, Novotel Resort sebagai Worlds Best Halal Beach Resort dan web Wonderful Lombok Sumbawa sebagai Wolrds Best Halal Travel Website.
Baca juga: Branding ‘Halal Tourism’ Semakin Melekati Lombok
Terbaru, berdasarkan standar dari Global Muslim Tourism Index (GMTI), raihan skor tertinggi Lombok menjadikannya Best Halal Tourist Destination. Skor 70 ini membuat Lombok diposisi teratas, di samping 10 destinasi halal terbaik se-Indonesia.
Penetapan skor 70 ini merupakan standarisasi yang ditetapkan Kemenpar, berasosiasi dengan Mastercard-CrescenRating. Penilaian didasarkan pada beberapa aspek, dan lebih detail lagi, masih ada pula penjabaran dari masing-masing aspek tersebut. Misal, dikriteria Akses. Penilaian akan mempertimbangkan lagi Wisa Requirements, konektivitas via udara dan infrastruktur transportasi (Jakarta Post, April (9/04 – Lombok dubbed Indonesia’s Best Halal destination).
Wisata Halal Adalah Karakter Keseharian Lombok
Idiom Halal Tourism (pariwisata halal) mulai semakin mengemuka, ketika pada akhirnya pemprov NTB mengeluarkan satu Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang hal ini. Tepatnya, Perda No 2 Tahun 2016 Saat itu, NTB (baca: Lombok), menjadi satu-satunya daerah yang memiliki perda pariwisata halal.
Di lapangan, belum semua stake-holder kepariwisataan memahami dengan baik setiap pasal yang termuat perda tersebut. Dalam banyak kesempatan, tren atau jargon ini masih kerap dipertanyakan. Misalkan, salah satu rakor (dilaksanakan dalam bentuk FGD) yang diselenggarakan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok di minggu ketiga, Juli 2018 dulu (Go Muslim Co Id, 23/07 2018).
Pada saat itu, rakor diniatkan agar bisa melahirkan produk branding yang tepat, dalam mencapai target market di negara-negara Timur Tengah. Jargon Halal Tourism, yang dikawal dengan Perda, masih dianggap sebagai branding yang kurang tepat. Bisa juga disebut sebagai jargon atau branding lain, yang dianggap akan jauh lebih menjual pariwisata Lombok, dibanding menggunakan ‘pariwisata halal’ saja.
Di satu sisi, banyak pihak yang memandang branding ‘halal’, sebenarnya sudah lekat dengan keseharian warga Lombok. Update data per tahun 2017 (Web BPS NTB, 15/11 2017), menunjukkan di empat kabupaten Lombok dan ibukota propinsi Mataram, penduduk beragama muslim masih menempati prosentase terbesar (Mataram 82%, Lobar 94%, Loteng 99%, Lotim 99% dan KLU 92%). Tentu dibutuhkan penelitian lebih mendalam, apakah ada korelasi antara prosentase penduduk muslim tersebut, dengan keberadaan tempat-tempat ibadah.
Faktanya, julukan pulau seribu masjid, juga bukan tanpa alasan. Di tahun 60-an sampai 70-an, kelompok masyarakat kaya Lombok, cenderung mewakafkan sebagian lahan mereka menjadi mushola. Jika dilakukan kalkulasi sederhana, misal ada 20 keluarga muslim kaya di masing-masing kabupaten, maka akan terdapat juga sekitar 20 mushola, tersebar di pelosok Lombok.
Perlengkapan Ibadah Muslim Standar di Banyak Lokasi Wisata
Di lapangan, nyatanya semakin banyak juga stakeholder pariwisata yang aktif mendukung jargon halal ini. Di sisi Amenitas misalnya. Keberadaan mushola di destinasi-destinasi wisata semakin diutamakan. Secara random, Genpi Co mendatangi beberapa spot ikonik Lombok. Gili Trawangan misalnya. Terkenal sebagai pulau pesta, gili (pulau kecil, bahasa Sasak Lombok) di utara pulau ini kini juga akrab dengan sebagian identitas keseharian muslim. Kubah dan menara
masjid Gili Trawangan, menjadi satu pemandangan unik. Terlihat mencolok dengan warna hijau pekatnya, di antara atap-atap akomodasi ‘leisure’ Trawangan.
Berikutnya, air terjun Benang Kelambu di Lombok Tengah. Muhaidi, salah seorang pengelola homestay di mulut gerbang utama menuju spot ini, menjelaskan bahwa sebenarnya norma umum muslim diterapkan sejak lama di lokasi ini. Satu mushola yang bisa menampung sekitar dua puluh orang, dibangun pemerintah di spot Benang Kelambu. Di samping musholla ini, ada kesepakatan umum, agar para guide yang menemani tamu, tak sungkan saling mengingatkan. Misalkan, jika ada tamunya yang berpakaian terlalu minim.
“Jika di lapangan kami temukan ada guide yang membawa tamu yang mengenakan bikini, misalnya, kami akan ingatkan untuk menegur tamu mereka. Kalau peringatan tersebut tidak diindahkan, bukan tidak mungkin ijin guidenya kami cabut,” demikian penjelasan Muhaidi.
Beberapa kondisi khusus di atas, mungkin tidak akan terlalu diperhatikan oleh wisatawan non muslim. Contohnya, Genpi Co sempat meminta waktu sebentar dengan seorang tamu Aruna Resort and Convention Senggigi. Rina, bersama keluarganya datang dari Surabaya. Rina mengaku tidak terlalu paham dengan konsep pariwisata halal dan juga tidak terlalu memperhatikan apakah hotel yang diinapinya melayani tamu dengan konsep tersebut. Namun, perhatian ekstra akan datang dari wisatawan yang berasal dari negara-negara muslim.
Seperti yang dikisahkan Fathul, Manager F & B Hotel Villa Ombak, Gili Trawangan. Sekitar empat tahun lalu, ada tamu hotel dari negara Timur Tengah yang menolak bersantap di restoran hotel. Tamu tersebut merasa khawatir dengan kehalalan kuliner yang dinikmatinya. Tamu merasa, meskipun ia memesan kuliner yang dijamin halal, ia merasa ragu dengan peralatan makan yang digunakan.
Benang merah yang bisa ditarik dari kondisi di atas, bahwa Lombok kini telah siap dengan ketersediaan peralatan ibadah muslim standar. Tempat-tempat ibadah penanda kiblat di banyak destinasi wisata, perlengkapan sholat, bahkan al-quran. Standar ini kemudian melingkupi layanan lainnya. Sertifikasi halal untuk restauran-restauran serta warung-warung makan. Mulai dari spot khusus yang menyediakan kuliner, seperti Sasak Resto di kota Mataram. Sampai hotel berbintang seperti Aruna Resort and Convention Senggigi.
Penanda Kiblat di Villa Ombak
Kondisi yang tetap memberikan ruang bagi eksisnya wisata konvensional. Satu spot yang cukup jelas menggambarkan ini, yaitu Gili Trawangan. Beragam standar pelayanan berkonsep halal, bersanding dengan tetap adanya bar-bar, bahkan toko khusus yang sediakan berbagai minuman beralkohol kelas dunia. Usaha membumikan pariwisata halal, di Lombok, adalah tentang menjaga yang sudah ada. Berikutnya, meningkatkan dan mengoptimalkan efek lanjutan dari penerapan konsep itu sendiri. Satu yang disepakati oleh beberapa narsum yang dtemui Genpi Co, adalah tentang kebersihan.
Liputan khusus GenPI.co pekan ini akan menyuguhkan informasi mendalam untuk membumikan wisata halal di Indonesia, yang secara khusus membahas Lombok, sebagai pulau peringkat teratas wisata halal. Mulai dari fasilitas dan pelayanan halal, bagaimana pulau Gili Trawangan yang dikenal dengan 'pulau pesta' juga harus menerapkan wisata halal, hingga mengukur sejauh mana Indonesia 'menghalalkan' diri sebagai lokasi wisata tepat yang nyaman bagi masyarakat muslim.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News