GenPI.co - Mantan guru honorer Hamsir Purwadi tidak pernah membayangkan kios sembako miliknya berkembang pesat seperti sekarang.
Pria asal Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu bisa mendapatkan omzet bisnis Rp 300 juta.
Pendapatan bersihnya bisa mencapai Rp 30 juta per bulan. Hamsir membuka tokonya mulai pukul 07.00 WITA sampai 03.00 WITA.
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Hamsir bekerja sebagai guru honorer pada 2009-2015.
Dia mendapatkan gaji Rp 500 ribu selama tiga bulan. Pada 2014, dia meminjam uang Rp 5 juta di bank untuk membuat kios.
Di sekolah, Hamsir mendapatkan teguran dan pilihan untuk berhenti atau lanjut mengajar karena sering terlambat.
Hamsir memutuskan mundur, lalu melanjutkan usahanya karena gajinya sebagai guru honorer tidak mencukupi kebutuhannya.
"Awal membuka usaha ini dengan modal Rp 100 ribu. Itu pun sisa dari membuat kios," kata Hamsir kepada GenPI.co NTB, Jumat (17/3).
Kisah sukses Hamsir dimulai. Usahanya terus berkembang. Barang dagangannya pun terus bertambah.
"Saya berjualan di sini bersama istri dan adik-adik. Pagi sampai sore mereka yang menjaga toko dan saya malamnya," ujar pria 35 tahun itu.
Hamsir menjelaskan pada awalnya ukuran kiosnya hanya 3x3 meter.
“Sekarang 15x25 meter tingkat dua," ucap ayah dua anak itu.
Hamsir pun sangat bersyukur karena kehidupannya saat ini dan zaman dahulu berubah total.
Dia mengaku hanya sarapan dengan lauk sambal goreng sebelum sukses seperti sekarang.
"Uang saku sekolah saja, saya harus membantu kakak mengurut dan diberikan Rp 5 ribu sehari," kata Hamsir.
Hamsir merasa lebih menderita ketika ayahnya meninggal dunia saat dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
"Saya menikah pada 2014 dan belum mempunyai rumah. Terpaksa menumpang di rumah orang tua," ucap Hamsir. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News