GenPI.co - Striker Timnas Portugal Cristiano Ronaldo mendapat desakan habis-habisan setelah memutuskan untuk bergabung ke Al-Nassr.
Ronaldo kabarnya didesak untuk berbicara tentang masalah hak asasi manusia (HAM) di Arab Saudi, tempat Al-Nassr bernaung.
Desakan tersebut muncul setelah Ronaldo mengakui bahwa keinginannya bergabung ke Al-Nassr karena ingin menjadi bagian dari keberhasilan negara dan budaya negara Arab Saudi.
Amnesty International mengatakan penandatanganan kontrak Ronaldo di Al-Nassr itu merupakan bagian dari 'pola pembersihan olahraga yang lebih luas' di Arab Saudi.
Kedatangan mantan penyerang Real Madrid itu seiring dengan latar belakang promosi Arab Saudi ke dunia olahraga termasuk golf, tinju, tenis dan F1 serta sepak bola.
Sebelumnya, pihak Arab Saudi juga telah melakukan pengambilalihan klub Liga Primer Inggris Newcastle United pada 2021.
Negara Teluk itu juga sedang mempertimbangkan penawaran menjadi tuan rumah bersama untuk Piala Dunia 2030.
Berangkat dari hal tersebut, Ronaldo diminta untuk menggunakan ketenarannya dan platform yang dimilikinya untuk berbicara mengenai HAM.
"Alih-alih menawarkan pujian yang tidak kritis terhadap Arab Saudi, Ronaldo harus menggunakan platform publiknya yang cukup besar untuk menarik perhatian pada masalah hak asasi manusia di negara itu," kata Dana Ahmed, peneliti Amnesti Timur Tengah, Kamis (5/1)
"Arab Saudi secara teratur mengeksekusi orang untuk berbagai kejahatan termasuk pembunuhan, pemerkosaan, dan penyelundupan narkoba. Dalam satu hari pada tahun lalu 81 orang dihukum mati dan banyak di antaranya diadili dalam persidangan yang sangat tidak adil," tambahnya.
Terlepas dari itu, kehadiran Ronaldo ke Al-Nassr memang mengundang gunjingan dari para fans sepak bola dunia.
200 juta euro atau Rp3,3 triliun per tahun sebagai gajinya hingga 2025 membuat Ronaldo menuai cibiran sebagai pemain yang lebih mementingkan harta dibandingkan prestasi.(Ant)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News