Tobatlah, Pak Moeldoko! Anak Buah SBY Beber Ini

12 Maret 2021 09:40

GenPI.co - Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Andi Arief mendadak meminta Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko untuk bertobat.

Andi Arief membeberkan secara rinci, bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua majelis tinggi, bukan jabatan baru. 

BACA JUGA: Mendadak Penyandang Dana KLB Partai Demokrat Blak-blakan

"(Amanat yang sudah didapat sejak kongres 2010, 2015 dan kini). Kongres 2010, kongres hasilkan 3 calon Ketum termasuk @marzukialie_MA sudah amanatkan SBY ketua majelis tinggi. Jadi bukan 2020, di situ Marzuki alie dan Jhoni Allen bohong," tulisnya di akun Twitter @AndiArief_ID.

Menurutnya, Kongres 2010 di Bandung menghasilkan tiga kader bertarung yang dapat persetujuan SBY karena posisinya ketua majelis tinggi. 

"Marzuki Alie yang saat ditunjuk menjadi Ketua DPR berjanji tak akan calonkan ketum, ingkar janjinya sendiri. Tetap diizinkan maju karena ada surat dukungan pemilik suara." ungkap Andi Arief, Kamis (11/3).

BACA JUGA: Pernyataan Yusril Ihza Mahendra Mengejutkan, SBY Bisa...

Menjelang Kongres 2020, SBY sebagai ketua majelis tinggi dapat aspirasi tertulis dari semua ketua DPD/DPC. Ada tiga aspirasi, calonkan kembali SBY, ikut arahan SBY, mencalonkan AHY. 

"Kongres Tidak di desain aklamasi, dibuka bagi kader ingin calonkan diri. Saat pendaftaran AHY didukung 95% dpd/dpc." tegas Andi Arief.

Namun, karena hanya AHY yang mendaftar saat kongres dan angka dukungan menurut tatib aklamasi (dalam tatib bisa mencalonkan diri 25 %), seluruh peserta kongres mendukung AHY secara aklamasi. 

"Sedangkan jabatan ketua majelis tinggi tetap SBY, karena amanat kongres 2015 Surabaya." ungkap Andi Arief.

Dia menambahkan, perubahan AD/ART setiap kongres disesuaikan dinamika organisasi, dinamika politik hasil diskusi yang panjang dan ilmiah. 

"Bahkan, sejak SBY tidak menjabat Presiden, Marzuki alie, Darmijal dkk menghilang." ujar Andi Arief.

Oleh sebab itu, Andi Arief berharap Moeldoko memahami bahwa kudeta di tubuh Partai Demokrat gagal. 

"Mudah-mudahan Pak Moeldoko memahami gagalnya kudeta keblinger dan bertobat. Partai Demokrat bukan partai yang pragmatis akibat perbuatan beberapa kader," tegas Andi Arief.

"Jhoni Allen dan Nazarudin serta Marzuki alie memang pernah sukses gunakan pragmatisme dalam kongres 2010. Sekarang zaman sudah beda," tambahnya.(*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Tommy Ardyan

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co