KH Ma’ruf Amin Dinilai Tidak Sehebat Jusuf Kalla

11 Oktober 2019 23:58

GenPI.co - Banyak pihak meragukan kemampuan Wakil Presiden Terpilih KH Ma’ruf Amin pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Kiai Ma’ruf dianggap tidak sekuat Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam hal kepemimpinan dan penguasaan ekonomi.

BACA JUGA: Kabinet Jokowi: 8 Berpeluang Bertahan, Rini Soemarno Diragukan

Menurut Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Auri Jaya, Kiai Ma’ruf hanya menjadi penyeimbang suasana politik pada Pilpres 2019.

Sebab, saat itu Jokowi mendapat cap anti-Islam dan komunis dari berbagai pihak.

Auri menilai Jokowi memilih Kiai Ma’ruf sebagai pendamping pada Pilpres 2019 untuk menangkal radikalisme.

“Namun, Pak Ma'ruf ternyata saat pidato pintar juga," kata Auri dalam diskusi bertajuk Yang Bertahan dan Yang Terbuang di Kantor Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro, di Jakarta Pusat, Jumat (11/10).

BACA JUGA: Jokowi-Prabowo Bertemu, Sinyal Kuat Gerindra Gabung Koalisi

Direktur Utama JPNN.Com itu juga mengaku tidak bisa membandingkan kepintaran Kiai Ma’ruf dan Jusuf Kalla.

"Apa se-strong JK yang kuat di ekonomi, kami tidak tahu. Ma'ruf mungkin kuat di santri. Namun, yang kita khawatirkan bukan Ma'ruf, melainkan keluarganya yang sudah mulai kasak-kusuk (politik)," kata Auri.

Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas juga menilai Ma'ruf tidak akan sekuat Jusuf Kalla sebagai wakil presiden.

Menurut Sirojudin, Jokowi lebih nyaman jika berpasangan dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

"Ma'ruf itu pragmatis, pedagang juga dia. Bahwa dia pedagang kebijakan, pedagang kewenangan, dia politikus," kata dia.

Dia menambahkan, Kiai Ma'ruf tidak dipandang di kampong halamannya di Banten. Hal itu terbukti dari kekalahan Kiai Ma’ruf pada Pilpres 2019.

"Harusnya dihormati, tetapi enggak menang," tambah dia.

Sirojudin menambahkan, Kiai Ma’ruf mampu berperan sebagai pelobi yang ulung di belakang.

"Dia bisa negoisasi. Problem solver mungkin bisa, tetapi tidak ekonomi. Pemain yang tepat misal dalam isu gelombang radikalisme atau tuntutan ekonomi Islam," jelas dia. (tan/jpnn)

 ​​​​

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Ragil Ugeng

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co