GenPI.co - Pasangan capres-cawapres dari kalangan nasionalis dan religius masih memiliki peluang besar dalam Pilpres 2024 mendatang.
Hal itu beredasarkan analisis pengamat politik dari lembaga Komite Pemantau Legeslatif (Kopel) Indonesia, Syamsuddin Alimsyah.
"Setidaknya itu tercermin dari institusi Parpol yang ada sekarang bisa kita petakan pada dua kelompok yakni partai nasionalis dan religius yang membawa simbol keagamaan," ujarnya, Rabu (26/10).
Menurut Syamsuddin, sekarang ini Parpol dianggap ideloginya sudah jauh bergeser ke pragmatis elektoral.
Sementara di sisi lain, cukup disayangkan karena peminat capres dari parpol yang garis ideologi perjuangannya oleh publik diragukan.
Selain itu, materi kampanye sekarang yang begitu mudah mendikotomikan seseorang dalam kelompok politik identitas dan pluralis.
Dengan begitu, kata Syamsuddin, seolah-olah kaum religius akan ditarik masuk ramah politik identitas dan nasionalis adalah pluralis.
Kondisi ini sesungguhnya adalah cara berpikir yang berbahaya dan bisa menyesatkan masyarakat.
"seolah-olah orang religius itu tidak toleran. Padahal sejatinya seseorang makin religius, maka semakin toleran," kata dia.
Dia menambahkan fenomena lainnya para elit secara sadar sengaja memelihara isu nasionalis religius saat Pemilu, semata-mata untuk elektoral saja.
Padahal, lanjut Syamsuddin, sejatinya rekrutmen kandidat capres oleh partai harus dipertanggungjawabkan kepada publik, karena standar integritasnya, kapasitasnya dan bukan karena ada jaminan sokongan pemodal. (ant)
.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News