GenPI.co - Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia Rizqan Kariema Mustafa menyoroti independensi dari 11 orang yang menjadi Tim Seleksi Anggota KPU-Bawaslu.
Meski beberapa nama dinilai cukup kredibel, Rizqan menyoroti komposisi tim yang lebih banyak menampung unsur dari pemerintah.
"Jika berbicara efeknya, tentu aspek independensi yang menjadi sorotan utama," kata Rizqan kepada GenPI.co, Selasa (12/10).
Menurutnya, salah satu yang menjadi ketakutannya ialah opini publik terkait hal tersebut.
KIPP Indonesia sendiri menginginkan tim seleksi yang memiliki komposisi lebih berimbang.
Misalnya, tim tersebut bisa diisi dari unsur pemerintah, unsur akademisi dan unsur masyarakat sipil.
Dengan demikian, kontrol dan tanggapan masyarakat menjadi poin peting dalam terciptanya keseimbangan.
"Saya pikir rasionalisasi apabila pemerintah mengumumkan pilihan nama-nama tersebut, tetapi memberikan kesempatan lebih bagi masyarakat untuk menangangapi usulannya," tambahnya.
Peneliti di SPD itu juga menyoroti proses pemilihan tim seleksi yang masih kurang dalam hal transparansi.
Selain itu, persoalan lainnya ialah ketidakterbukaan mengenai rasionalisasi pemerintah dalam pemilihan nama-nama tersebut.
“Masukannya adalah aspek keterbukaan serta reasoning di balik dipilihnya pihak-pihak tertentu,” katanya.
Seperti diketahui, 11 orang Tim Seleksi Anggota KPU-Bawaslu telah terpilih.
Mereka adalah Juri Ardiantoro sebagai ketua, Chandra M. Hamzah selaku wakil ketua, dan Bahtiar selaku sekretaris.
Sedangkan anggotanya ialah Edward Omar Sharif Hiariej, Airlangga Pribadi Usman, Hamdi Muluk, Endang Sulastri, I Dewa Gede Palguna, Abdul Ghaffar Rozin, Betti AliSjahbana, Poengky Indarty. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News