GenPI.co - Pengamat politik Philipus Ngorang menilai bahwa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan otoriter.
"Kengototan Anies dalam mengadakan Formula E itu menunjukkan watak politik dari Anies yang terihat otoriter," ujarnya kepada GenPI.co, Jumat (3/9).
Menurut Ngorang, kebijakan Anies selama ini disusun sesuai dengan keinginan mantan Menteri Pendidikan dam Kebudayaan (Mendikbud) tersebut.
Ngorang mencontohkan kebijakan Anies yang memperbolehkan pembangunan masjid di wilayah Meruya, Jakarta Barat, di atas ruang terbuka hijau (RTH).
"Itu RTH, lho. Orang sekitar situ menolak, karena itu RTH. Namun, Anies masih melanjutkan pembangunan," ungkapnya.
Pengajar di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie itu mengatakan bahwa Anies membuat kebijakan hanya untuk menyenangkan pendukung.
"Secara psikologi politik, hal itu menunjukkan kecenderungan kepemimpinan otoriter," katanya.
Ngarang menilai bahwa Anies cenderung tak mendengarkan pendapat masyarakat dalam realisasi sebuah kebijakan.
"Kalau dia bilang harus dan mau, jadi harus dilakukan. Mau ada yang menolak, tidak digubris," tuturnya.
Hal itu juga ditegaskan dengan langkah Anies mengundang tujuh fraksi DPRD DKI Jakarta untuk melanjutkan proyek Formula E.
"Bayangkan Anies sampai melakukan manuver politik itu secara terang-terangan," paparnya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News