GenPI.co - Kontak senjata antara Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI dan Polri terjadi Kampung Mayerga, Distrik Moskona Barat, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat pada pekan lalu.
Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa bersama Gubernur dan Kapolda pun meninjau para pengungsi akibat kontak senjata itu, pada Senin (2/8).
Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mengatakan dirinya menjamin keamanan para pengungsi tersebut.
“Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi di negara kita Indonesia. Saya selaku Pangdam bertanggung jawab atas keamanan terhadap saudara-saudara sekalian,” katanya.
Cantiasa menyampaikan sikap prihatin atas masalah keamanan yang berdampak adanya pengungsi warga dari Kampung Mayerga ke Bintuni.
“Apalagi saat ini kita dihadapkan pandemi Covid-19. Masyarakat harus mengungsi hampir dua minggu dan terpencar,” ucapnya.
Cantiasa mengungkapkan kejadian di Distrik Moskona Barat menjadi bukti bahwa masih ada yang tidak sejalan dengan NKRI,
Ia menyebut, Lodwick Mandacan sebagai kepala suku besar sudah mengikrarkan diri untuk bergabung dengan NKRI.
"Mereka yang masih berteriak Papua Merdeka adalah mereka-mereka yang kalah bersaing, tidak mau bekerja keras, dan hanya bisa merongrong negara," ujarnya lagi.
Cantiasa juga mengajak supaya menyudahi masalah perbedaan, dan saatnya fokus untuk membangun Papua Barat.
Pada acara tersebut diakhiri dengan memberikan bingkisan sembako sekaligus melepas 115 pengungsi untuk kembali ke tempat tinggalnya di Kampung Mayerga, Distrik Moskona Barat, Kabupaten Teluk Bintuni. (ant)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News