GenPI.co - Akademisi politik Philipus Ngorang menilai bahwa tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat memperkuat lembaga antirasuah tersebut.
Pasalnya, para pegawai KPK harus benar-benar memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.
BACA JUGA: Novel Baswedan Geram Sekali! Firli Bahuri Sampai Disebut Begini
“Wawasan kebangsaan itu adalah cara seseorang melihat tentang diri dan lingkungannya. Nah, dirinya itu siapa? Lingkungannya itu siapa? Itu yang coba dilihat dalam tes tersebut,” ujarnya kepada GenPi.co.
Ngorang mengatakan bahwa para pegawai KPK bekerja untuk negara dan demi kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, jangan sampai hal-hal kecil seperti perbedaan pemahaman agama menjadi bias dalam pekerjaannya.
“Mereka yang seperti itu artinya wawasan kebangsaannya bisa dibilang sempit,” katanya.
Pengajar di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie itu memaparkan bahwa urusan agama adalah masalah pribadi, sehingga tak perlu dicampuri oleh pihak lain.
“Agama itu urusan pribadi dan bangsa Indonesia memiliki keberagaman yang tinggi. Jadi, harusnya agama itu tak perlu dicampuri orang lain,” paparnya.
BACA JUGA: Pergerakan Kapal Perang China Mencurigakan, Sukamta: Waspada!
Lebih lanjut, Ngorang turut menyampaikan pendapatnya perihal pernyataan penyidik KPK senior Novel Baswedan yang mengatakan bahwa 75 orang pegawai yang tidak diluluskan dalam tes tersebut karena berintegritas tinggi.
Menurut Ngorang, integritas memiliki ukuran dan indikator yang berbeda-beda, sehingga Novel perlu menjelaskan maksud dari pernyataan itu.
“Berintegritas itu seperti apa maksudnya? Integritas itu tak bisa dinilai oleh diri pribadi. Seseorang memiliki integritas atau tidak itu dinilai oleh orang lain dan itu ada indikatornya,” ungkapnya.(*)
BACA JUGA: Peluang Anies Maju Pilpres 2024 Tergantung Hal Penting Ini!
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News