Myanmar Lumpuh, Seluruh Bisnis Lakukan Pemogokan

22 Februari 2021 23:32

GenPI.co - Ratusan ribu pengunjuk rasa berkumpul di kota-kota besar dan kecil di seluruh Myanmar, sekaligus seluruh bisnis ditutup dalam seruan untuk pemogokan umum yang menentang kudeta 1 Februari.

Dilansir Reuters, bahwa unjuk rasa yang terjadi pada hari Senin (22/2/2021), disebut sebagai yang terbesar sejak pengambilalihan militer.

BACA JUGA: Fenomena Banjir Inggris, Warga Dievakuasi, Semua Aktivitas Lumpuh

Di kota terbesar Myanmar, Yangon, puluhan ribu berkumpul di bawah terik matahari, meneriakkan "Bebaskan semua pemimpin yang ditahan".

Dilaporkan juga toko-toko lokal dan jaringan internasional, termasuk KFC Yum Brands Inc dan Delivery Hero's Food Panda telah mengumumkan penutupan.

Para pengunjuk rasa juga muncul secara massal di ibu kota, Naypyidaw, kota terbesar kedua di Mandalay, dan berbagai kota di seluruh negeri, termasuk di Myitkyina, Hpaan, Pyinmana, Dawei dan Bhamo.

Kerumunan berkumpul setelah para pendukung Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM), sebuah kelompok yang terorganisir secara longgar yang memimpin perlawanan, dengan menyerukan orang-orang untuk bersatu.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres menyerukan kepada militer Myanmar untuk segera menghentikan penindasan.

“Bebaskan para tahanan. Akhiri kekerasan. Hormati hak asasi manusia, dan keinginan rakyat yang diekspresikan dalam pemilihan baru-baru ini," katanya.
 
Menurut dia, pihaknya melihat hancurnya demokrasi, penggunaan kekuatan brutal, penangkapan sewenang-wenang, penindasan dalam segala bentuknya. Pembatasan ruang sipil. Serangan terhadap masyarakat sipil. Pelanggaran serius terhadap minoritas tanpa akuntabilitas.

Adapun, dikabarkan ada tiga pengunjuk rasa telah ditembak mati sejauh ini, termasuk seorang remaja berusia 16 tahun yang ditembak di Mandalay pada hari Sabtu dan Mya Thwate Thwate Khaing yang berusia 20 tahun, yang ditembak di kepala pada protes di ibukota pada 9 Februari dan meninggal.

Tom Andrews, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Myanmar, mengaku sangat prihatin tentang ancaman kekerasan militer.

"Peringatan bagi junta: Tidak seperti 1988, tindakan pasukan keamanan dicatat dan Anda akan dimintai pertanggungjawaban," tulis Andrews di Twitter.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan 640 orang telah ditangkap sejak kudeta dimulai dan 594 masih ditahan. Myint Oo, seorang anggota parlemen, juga termasuk di antara mereka yang ditahan pada Minggu malam.

BACA JUGA: Viral! Aksi Polisi Menyelamatkan Anak dalam Penculikan di Inggris

Internet juga telah dimatikan untuk malam kedelapan dengan NetBlocks, yang memantau pemadaman dan gangguan layanan, mengatakan jaringan turun menjadi 13 persen dari level biasanya.

Diketahui, pemimpin yang terpilih secara populer Aung San Suu Kyi, politisi senior di Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dan anggota komisi pemilihan ditangkap pada dini hari 1 Februari.(*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Luthfi Khairul Fikri

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co