GenPI.co - Otoritas Australia akhirnya menutup atraksi wisata mendaki bukit batu Anyers atau Uluru. Keputusan itu dilakukan karena Uluru merupakan tempat suci bagi warga aborigin setempat.
BACA JUGA : Wow, Orang Makassar Ada Ikatan Kerabat dengan Aborigin Australia
Penutupan sebuah tempat wisata tak hanya dilakukan pemerintah Australia, Filipina pernah menutup sementara Pantai Boracay karena jumlah turis yang terlalu ramai membawa masalah sosial dan lingkungan. Setelah 6 bulan masa rehabilitasi, pantai terkenal itu kini telah dibuka kembali.
Sementara itu pemerintah Provinsi NTT juga pernah memutuskan untuk menutup Pulau Komodo dengan alasan untuk menjaga kelestarian hewan langka tersebut. Keputusan itu akhirnya dibatalkan dan turis masih bisa mengunjungi Pulau Komodo namun dengan biaya yang lebih tinggi.
Australia kini menempuh jalan yang sama, menutup salah satu landmark terkenal mereka. Overtourism telah memciptakan masalah sosial dan lingkungan, dan itu dirasakan pula oleh warga asli Anangu yang menetap di sekitar Uluru atau Ayers Rock. Menurut warga Anangu, batu utuh setinggi 348 meter itu adalah tempat suci mereka dan banyaknya turis yang mendaki ke atasnya menodai kesucian tempat tersebut.
Pada tahun 1985 pengelolaan Uluru diserahkan ke warga asli Anangu dan sejak itu mereka mengajukan tuntutan untuk menutup atraksi wisata pendakian Uluru. Pada November 2017, setelah melakukan voting, Dewan Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta menyatakan bahwa tempat warisann dunia UNESCO itu tidak boleh lagi dinaiki mulai tanggal 26 Oktober 2019.
BACA JUGA : Syuting Mortal Kombat di Australia, Joe Taslim jadi Anak Indekos
BACA JUGA : Mati Lampu Setengah Hari di Australia, Gratis Listrik Sebulan!
Kepala Dewan TN Uluru-Kata Tjuta Sammy Wilson mengatakan bahwa mereka tidak menolak turis, turis tetap bisa datang melihat Uluru hanya saja kini mereka tidak bisa lagi naik ke puncak bukit yang terbuat dari satu bongkah batu utuh itu. "Menutup pendakian bukanlah sesuati yang mengecewakan melainkan sesuatu yang harus dirayakan," ujarnya kepada Daily Mail sembari mengajak orang-orang untuk datang, "mari datang bersama, mari tutup pendakian ini bersama," ajaknya kepada orang-orang.
"Jika saya bepergian ke luar negeri dan terdapat tempat suci, daerah dengan akses terbatas, saya tidak akan memasukinya atau mendakinya. Saya menghormatinya. Hal yang sama berlaku disini untuk Anangu. Kami menyambut turis disini, kami tidak akan menghentikan pariwisata, hanya pendakian ini," tegasnya lagi.
Uluru adalah simbol daerah pedalaman Australia dan icon yang sangat terkenal dari Australia selain Kangguru dan Gedung Opera Sydney. Pada hari terakhir ini, ratusan turis mengantri untuk bisa menaiki Uluru di kali terakhir sebelum ditutup untuk selamanya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News