Susah Payah Seorang Polisi Bangun Mushola dan MCK bagi Warga Sitangkai

26 Februari 2019 08:43

Adalah Bripka Firman Zulkarnaen, seorang polisi di Polres Tanahdatar, Sumatera Barat. Bertugas sebagai Polantas, ia juga memiliki sisi humanis yang tinggi. Sebuah mushola serta fasilitas MCK dibangunnya bagi warga Sitangkai,  Jorong Taruko, Nagari Taluak, Kecamatan Lintaubuo.

Keprihatinan Bripka Firman muncul saat melihat warga Sitangkai yang tidak memiliki kamar mandi serta air bersih di rumah masing-masing. Satu-satunya tempat tempat warga berkegiatan MCK adalah Sungai Batang Tompo.

Baca juga: Edi Warman, Dulu Penjahat Sekarang jadi Guru Ngaji 

Sitangkai merupakan satu daerah di Nagari  Taluk, Kecamatan Lintaubuo Utara yang menjadi jalur persinggahan. Kawasan Simpang tiga yang memiliki ikon jembatan bikinan peninggalan Belanda. Di pinggir jembatan itulah warga melakukan kegiatan MCK, serta tempat bagi anak-anak setempat mandi dan belajar berenang. Di kawasan itu pula berdiri sebuah pos polisi unit laka lantas milik Sat Lantas Tanahdatar.

Sejak dahulu, warga setempat menjadikan sungai sebagi satu-satunya sumber air untuk kebutuhan, termasuk untuk air minum. Kawasan ini merupakan persimpangan yang selalu disinggahi oleh warga sekitar Tanahdatar, baik yang ke Sijunjung ataupun ke arah Payakumbuh.

Namun sayangnya, di daerah itu, tidak memiliki fasilitas bagi warga setempat maupun bagi warga yang tengah menunggu kendaraan umum untuk membuang hajat serta tempat sholat. Hingga pada tahun 2009 lalu, Bripka Firman yang kala itu masih berpangkat Briptu mendapat tugas menjaga pos tersebut.

Bripka Firman jadi Imam waktu sholat di Mushola yang dibangunnya.

Awal bertugas ditempat tersebut, Bripka Firman bolak balik Batusangkar-Lintau. Karena Sang istri Helvi Desyanti dan ketiga anaknya Azzah Syarifah F, Muhammad Fadlan F, dan Innayah Rafifah tinggal di Batusangkar. Selama sebulan itu, Firman mengamati kehidupan warga setempat yang melakukan segala aktifitas di sungai Batang Selo.

Keprihatinan Bripka Firman semakin mencuat saat melihat warga mandi berbaur tanpa pembatas. Di saat itulah, sanubarinya tersentuh untuk mendirikan sebuah mushola dan tempat kamar mandi serta WC muncul.

Setelah berkoordinasi dengan atasannya Kasat Lantas yang saat itu dipegang oleh Ariffin Daeulay, Bripka Firman meminta izin untuk fokus mengerjakan keinginannya itu. Firman bahkan sampai rela menetap dan tinggal di pos penjagaan yang luasnya hanya cukup untuk tidur berbaring.

Meski tidak tahu mendapatkan dana dari mana, namun keinginan baik tersebut mulai mendapatkan respon dari warga setempat. Seorang warga bernama Asnibar menghibahkan lahan miliknya yang berada dibelakang pos dan rumahnya untuk dijadikan mushola.

Mendirikan mushola tentu saja butuh dana yang tidak sedikit. Apalagi, harus mendam tebing dan mendirikan tonggak dari bibir sungai Batang Selo yang tingginya mencapai empat meter lebih.

“Saat itulah saya menemui sebuah toko bangunan, saya utarakan niat saya kepada pemilik toko. Alhamdulillah mendapat sambutan baik, padahal saya sendiri tidak tahu harus mencari dana kemana,” ujarnya saat ditemui di Mushola Nur Arifin.

Warga setempat yang mengetahui niat baik Bripka Firman tidak mau berdiam diri. Mereka turut mengumpulkan dana untuk membeli semen pertama. Kemudian bersama mengambil batu dari sungai tersebut. Mulailah pembangunan mushola itu yang kemudian siap setelah satu setengah tahun kemudian.

Perlahan, bantuan dari berbagai pihak juga mulai berdatangan, namun tetap saja Bripka Firman yang tetap berkorban lebih. Ia merogoh kocek sebesar Rp150 juta untuk menuntaskan proyeknya itu.

Saat mushola, Firman sendiri turut menjadi tukangnya. Dia mengerjakan bangunan tersebut selepas dinas. Bangunan tersebut dibuat dengan luas 5x5 meter dengan beberapa kamar mandi. Untuk airnya, diambil dari sumur yang berada di seberang sungai yang kemudian disedot dengan mesin air.

Sejak saat itulah, perubahan kebiasaan terjadi bagi warga Sitangkai. Mereka tidak lagi buang air di sungai, apa lagi mandi bercampur baur. Mereka juga dapat memakai beberapa kamar mandi yang ada tepat di sebelah mushola tersebut. Selain itu, manfaat lebih utama yang dirasakan warga adalah dapat sholat berjamaah di mushola itu termasuk pada bulan puasa untuk taraweh.

Usaha dan niat baik Firman kemudian disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Tanahdatar melalui pemerintah nagari. Dana Alokasi Khusus (DAK), Pemkab pun cair untuk membantu membuatkan dam tebing serta jenjang untuk jalan menuju mushola.

Walinagari Taluak Pendi Aswil mengatakan, jika mushallah itu ke depan akan ditambah lagi bangunannya agar anak-anak di Sitangkai dapat belajar mengaji di tempat tersebut.

“Kita berencana agar tempat ini benar-benar dapat berguna bagi warga termasuk untuk anak-anak kita mengaji. Karena saat ini anak-anak yang ingin mengaji terpaksa pergi ke surau yang lumayan jauh dari sini,” ujar wali nagari.

Kini, musholah tersebut dijaga dan dirawat oleh warga Sitangkai sendiri, karena Bripka Firman telah pindah tugas ke Unit SIM Sat Lantas Polres Tanahdatar. Namun, peninggalannya itu memberikan manfaat serta membawa perubahan bagi warga Sitangkai Khususnya yang tercatat tidak kurang dari 100 Kepala Keluarga, termasuk digunakan bagi warga yang menunggu angkutan umum di Sitangkai.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co