Aku Menyiakan Ketulusan Dava, hingga Maut Menjemputnya

30 April 2020 21:25

GenPI.co - Hari ini tepat dua tahun setelah kepergian Dava, lelaki yang kurang lebih 5 tahun telah menyempurnakan hari-hari Aya. Lelaki yang selalu dikagumi oleh Aya ini memang sudah menghembuskan nafas terakhirnya karena salah satu kecelakaan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Tepat 5 tahun yang lalu kisah cinta dua manusia ini dimulai. Dava seorang lelaki super jutek yang dikenal sebagai ketua osis ini berhasil memikat hari Aya, gadis angkuh yang disegani teman-temannya, dikenal sebagai gadis cerdas disegala bidang. 

Awal mula pertemuan mereka disebuah gedung saat Aya sedang melakukan hobby nya sebagai fotografer. Kegiatan ini memang tekun dilakukan Aya setiap petang hari penghabisan matahari.

Dava saat itu memang selalu mengunjungi gedung tua di salah satu tempat di Bandung dengan membawa kanvas serta peralatan lukis lainnya. Seorang seniman yang diam-diam mengagumi seluruh isi bumi ini, tanpa sengaja melukis seorang gadis yang sedang serius dengan kameranya. 

Warna demi warna dicampurkan di dalam kanvas putihnya, hingga akhirnya terlukislah seorang gadis cantik berambut panjang terurai dengan sebuah kamera yang dipegangnya.

Hari berikutnya mereka dipertemukan lagi, walau masih tanpa komunikasi, Dava masih memandangi Aya dari jarak kejauhan. Mencoba melukis tanpa harus diketahui oleh Aya, dan Aya pun masih belum sadar bila belakangan ini ternyata ada salah satu lelaki yang diam-diam memperhatikannya. 

Waktu terus berganti. Hari pun terus berlalu dengan aktivitas yang masih sama. 

Aya yang sibuk dengan dunia foto dan Dava selalu sibuk melukis Aya dari jarak kejauhan. Entah sudah berapa puluh wajah Aya yang dilukis oleh Dava. 

Dan ternyata diam-diam Dava mulai menyukai Aya, tanpa ia tahu bahwa sebenarnya Aya adalah salah satu siswi disekolahnya.

Awal Senin seperti biasa, beberapa siswa mungkin mempunyai pemikiran bahwa “Monday is Mon(ster)Day”. Namun tidak untuk Aya. 

Gadis ini selalu bersyukur setiap harinya, tanpa peduli masalah apa yang akan didapatkannya di hari itu. Pagi ini dengan antusias nya ia memulai melangkahkan kakinya menuju sekolah. 

Tetap dengan kamera yang selalu dibawanya di dalam tas dengan tumpukan buku yang dipegangnya erat. Topi dan dasinya pun masih acak-acakan, tak tertinggal sebuah ikat pinggang yang telah dikenakannya namun terbalik.

*brakkk* buku-buku yang ada di tangan Aya tiba-tiba jatuh karena sebuah keteledoran seorang lelaki yang menabraknya, “Aduuuhh!! Gimana sih kalau jalan lihat-lihat donggg!!” ucap Aya dengan nada agak kesal. 

“Yampun maaf.. maaf gw nggak sengaja.” Suara ini ternyata berasal dari suara Dava. 

Dava yang dengan buru-buru membantu Aya untuk membereskan buku-buku yang tercecer di lantai. 

“Besok-besok kalau jalan jangan pake kaki aja ya, mata dipake juga” Kata Aya dengan sinis sambil meninggalkan Dava. 

“Gila! Cewek cantik kayak dia ternyata sinis kayak gitu. Gw kira… ahh udahlah gak penting juga” ucap Dava dalam hati.

BACA JUGA : Terjebak Cinta yang Semu, Menyakitkan Tapi Sulit untuk Kulupakan

Gadis yang selama ini menjadi model dalam kanvas-kanvas Dava ternyata adalah seorang gadis yang angkuh. Awalnya, Dava memang berusaha untuk melupakan puluhan lukisan tentang Aya, ternyata tidak bisa. 

Semakin keras ia mencoba melupakan, semakin keras pula ingatannya tentang Aya. Ternyata mencoba melupakan gadis ini adalah salah satu hal yang menyulitkan untuk Dava, hingga akhirnya ia memutuskan tuk mencari tahu lebih banyak tentang Aya.

Hampir satu bulan Dava mencari tahu semua informasi tentang Aya. Diam-diam ia menaruh simpati pada Aya, diam-diam ia mengagumi Aya, diam-diam ia menyukai Aya, dan mungkin ia mencintai Aya secara diam-diam. 

Salah satu sahabat Aya memberitahu pada Aya bila Dava selalu mencari tahu tentang Aya. Namun respon Aya masih sama, flat. 

Gadis ini memang dikenal belum bisa membuka hatinya pada siapapun semenjak duduk di bangku 10. Hingga akhirnya ada sebuah kejadian yang membuat Aya menjadi dekat dengan Dava. 

BACA JUGA : Jatuh Cinta Diam-Diam: 14 Cerita Tentang Perasaan yang Terpendam

Sekolah mereka mengadakan lomba fotografi, akhirnya Aya mengikuti lomba tersebut, dan mulai sejak inilah kedekatan mereka dimulai.

“Lo ikut lomba juga?” Tanya Dava. Ternyata ketua panita lomba itu adalah Dava, lelaki yang disegani Aya sejak kejadian di koridor sekolah minggu lalu. 

“Iya, kenapa? Semua siswa berhak ikut kan?” Tegas Aya dengan sedikit keras. 

Suasana hening, sapaan Dava ternyata tetap dibalas dengan ketus oleh Aya. Namun Dava tidak mempedulikan itu, ia tetap membimbing Aya selama lomba itu berlangsung. 
Singkat cerita Aya lah yang memenangkan lomba fotografi itu, memang bukan isapan jempol belaka semua jepretan Aya terpampang di mading sekolah.

“Hei.. selamat ya!” Ucap Dava sambil menjulurkan tangannya pada Aya, “Oke.. thanks lhooo udah bantuin gw juga. Hehe” kata Aya sambil tersenyum, ini kali pertama Dava melihat Aya tersenyum untuknya, ada rasa yang tak biasa saat mereka saling menjabat tangan dan bertatapan. Seakan waktu berhenti berdetak. 

Akhirnya cinta bertaut dan mereka memutuskan untuk bersama, walaupun awal mula hubungan mereka agak sedikit hambar. Karena Aya adalah sosok gadis yang lumayan kaku dengan lelaki.

Namun, itu semua tidak menjadi penghambat bagi hubungan mereka. Malah justru menjadi sebuah pengerat terselubung di dalam hubungan mereka itu.

Hari-hari mereka begitu indah, dengan atau tidak ada nya salah satu dari mereka tetap menjadi pelengkap di dalam hubungan yang harmonis ini. 

Hingga suatu ketika keadaan yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka terjadi. Malam itu, tepatnya malam dimana pergantian umur Aya. 

Dava yang bertujuan untuk menemui Aya pada malam itu mengalami suatu kecelakaan yang merenggut nyawanya. 

Mobil yang ditumpanginya ditabrak oleh salah satu truck dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang dimimpikan mereka berdua saat kisah cinta mereka yang sedang hangat-hangatnya harus berakhir dengan suatu kejadian tragis. 

Awalnya Dava hanya mengalami pendarahan di kepala yang menyebabkan penyumbatan otak.

Namun Tuhan berkata lain.. Dava akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya di malam yang harusnya menjadi malam teristimewa bagi Aya. 

Aya merasa bersalah karena selalu menyia-nyiakan waktu berdua dengan Dava saat bersamanya sangat terpukul dengan kepergian Dava.

"Maafkan aku Dava, aku menyesal,"(*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Landy Primasiwi Reporter: Hafid Arsyid

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co