GenPI.co - Di era digital, hubungan antara teknologi dengan cara mengasuh anak menjadi makin penting.
Hal itu untuk memastikan perlindungan anak di dunia maya dan menumbuhkan literasi digital bagi orang tua.
Dilansir Marriage, saat memahami kompleksitas pengasuhan anak secara digital, penting untuk memahami potensi sisi negatifnya. Apa saja?
Salah satu kelemahan utama pengasuhan digital adalah potensi pelanggaran privasi anak.
Dalam upaya melindungi anak-anak, orang tua dapat memantau aktivitas daring secara ketat, menggunakan aplikasi dan perangkat lunak yang melacak setiap klik dan pesan.
Meskipun keselamatan adalah yang terpenting, pengawasan semacam itu dapat melewati batas, yang menyebabkan perasaan tidak percaya dan pelanggaran privasi anak.
Kesenjangan digital antargenerasi dapat menyebabkan kesalahpahaman.
Orang tua yang kurang memahami tren, bahasa gaul, atau budaya daring terkini dapat salah mengartikan aktivitas anak.
Apa yang mungkin dianggap berbahaya atau tidak pantas oleh orang tua sebenarnya bisa jadi merupakan hiburan atau interaksi sosial yang tidak berbahaya.
Menerapkan strategi pengasuhan digital, terutama terkait waktu penggunaan layar dan akses internet, dapat menjadi sumber konflik.
Remaja dan bahkan anak-anak yang lebih muda menghargai kemandirian dan mungkin menganggap aturan yang ketat sebagai sewenang-wenang atau tidak adil, yang berujung pada pertengkaran dan kebencian.
Pentingnya aturan untuk dibuat dengan jelas, konsisten, dan dinegosiasikan alih-alih dipaksakan, dengan pemahaman bahwa aturan dapat berubah seiring anak-anak tumbuh dewasa dan menunjukkan perilaku daring yang bertanggung jawab.
Pendekatan ini dapat membantu mengurangi konflik dan mendorong terciptanya lingkungan keluarga yang kooperatif. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News