GenPI.co - Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan perkebunan karet harus dijaga keberlanjutannya.
Hal ini terkait dengan impor bahan olahan karet (bokar) oleh pabrik pengolahan.
Sejak pertengahan 2021, sejumlah pabrik karet di Sumsel terpaksa mengimpor bokar dari Vietnam dan Myanmar.
Pasalnya, pabrik-pabrik tersebut kekurangan bahan baku dari petani. Kondisi ini diduga karena menurunnya gairah petani untuk memanen getah.
Sebab, harga yang diterima terbilang rendah dan menurunkan produktivitas kebun yang berusia sudah tua.
Herman berpendapat, kondisi ini harus disikapi dengan bijak. Apabila tidak disikapi dengan bijak, maka semakin banyak petani karet yang beralih menjadi petani sawit.
“Sebenarnya jika beralih dari kebun ke kebun itu tidak masalah. Asal jangan dari kebun ke perumahan. Tapi kami juga tidak ingin komoditas andalan karet ini terganggu,” ujar Herman, Rabu (19/1).
Sejauh ini, karet merupakan komoditas andalan Sumatera Selatan untuk ekspor selain minyak sawit (CPO) dan batu bara.
Saat ini, harga karet di tingkat petani yang dijual melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar senilai Rp 12.000 per kilogram untuk masa pengeringan satu minggu atau KKK 60 persen.
Jika menjual ke tengkulak, petani hanya mendapatkan harga sekitar Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram. (ant)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News