Si Om Pergi Berlayar, Tante Minta Aku Menemaninya hingga Terlelap

17 Mei 2022 21:00

GenPI.co - Namaku Joe. Aku tinggal bersama bersama adik dari ayahku, Om Leo di Jakarta.

Ya, hal itu terjadi karena aku harus melanjutkan studi di salah satu universitas di ibu kota, sementara orang tua tinggal di kampung.

Untuk menghemat pengeluaran, ayah memintaku untuk tinggal bersama Om Leo dan istrinya, Tante Sabin.

BACA JUGA:  Terpaksa Dilayani Menantu Saat Istri Pergi Dinas

Aku awalnya menolak karena merasa sungkan jika tinggal bersama orang asing, apalagi om dan tante cukup lama tidak saling komunikasi dengan keluargaku.

Namun, ayahku memaksa hingga keluar ancaman jika tidak tinggal di sana, aku bakal sulit mendapat uang bulanan.

BACA JUGA:  Terbiasa di Luar, Bapak Mertua Menolak untuk di Dalam Saja

"Yah. Aku nggak punya pilihan, kan? Jadi, izinkan aku tinggal di sini om," kataku kepada Om Leo.

"Iya. Ayahmu memang keras kepala. Jadi, nikmati saja kamu tinggal di sini," jawabnya.

BACA JUGA:  Trauma Ditinggal Istri, Ayah Mertua Hobi Main di Belakang

Singkat cerita, Om Leo ialah seorang juru masak di sebuah kapal pesiar, sehingga jarang di rumah.

Oleh karena itu, aku lebih banyak bertemu Tante Sabin sehari-hari.

"Om akan pergi dinas selama empat bulan ke Brasil. Jadi, selain jaga rumah, kamu harus berlaku baik sama tantemu, ya!" ucap Om Leo.

"Iya, siap om," sahutku.

Hubunganku dengan Tante Sabin sebenarnya tidak begitu baik, karena dia tipe orang yang pendiam.

Dengan sikapnya seperti itu, aku jadi sungkan untuk berbicara ataupun meminta sesuatu darinya.

Akan tetapi, suatu hari, Tante Sabin mendadak bercerita tentang keluhannya.

Aku pun terkejut dan mencoba mendengarkan keluh kesahnya.

"Tante sebenarnya tidak suka jika terus berada di rumah. Artinya, tante tidak bisa bekerja seperti dulu," kata dia.

"Apa Om Leo tahu kalau tante merasakan hal ini?" sahutku.

"Tentu saja tidak. Sebab, tante takut dimarahi olehnya," jawab Tante Sabin.

Perbincangan kami ternyata sangat lama hingga tengah malam. Aku pun berusaha pamit untuk tidur.

Namun, Tante Sabin terlihat masih gelisah karena galau untuk berbicara dengan Om Leo.

"Joe, apa kamu nggak bisa temani tante sebentar lagi?" pintanya.

"Hmm, baiklah. Aku akan menemani tante hingga lebih baik perasannya. Jadi, jangan sampai merasa sendirian, ya, tante," sahutku.

Aku pun kembali duduk di samping Tante Sabin sambil memegang tangannya.

Hal itu aku lakukan karena Tante Sabin mendadak meneteskan air mata.

Aku merasa kasihan hingga memintanya untuk menangis hingga lega.

"Tante yang sabar, ya. Kalau menangis itu membantu, tante bisa banget keluarkan semua perasaan sedih itu," kataku.

Malam itu, aku pun menemani Tente Sabin hingga perasaannya lega.

Kami berdua pun tertidur lelap di ruang tengah dengan televisi yang menyala hingga pagi. (*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Hafid Arsyid Reporter: Puji Langgeng

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co