GenPI.co - Di awal Juli, ayahku positif covid-19. Bahkan, CT valuenya mencapai 9 dan dia sudah rentan karena masuk ke golongan lansia.
Betapa hatiku teriris sedih melihat ayah hanya bisa terbaring tak berdaya. Malam saat ayah dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan oksigen hatiku sangat sakit.
Kasihan ayah. Dia sudah ditolak tiga rumah sakit karena tidak mendapat oksigen dan penuh.
Ayah sudah megap-megap, tubuhnya berkeringat banyak.
"Ayah, kita pasti bisa. Ayah yang kuat," usahaku untuk menyemangatinya.
Dia hanya menatapku seakan mengatakan "sudah tidak bisa".
Akhirnya, tubuhku terbawa ke puskesmas dekat rumah. Aku tidak menduga bahwa tempat itu memiliki alat medis lengkap, ayah akhirnya bisa bernapas lega.
Namun, saat ayah dinyatakan positis virus corona aku makin khawatir akan kondisinya. Dia memiliki jantung dan juga gula.
Sebelum ayah mendapatkan perawatan khusus karena dinyatakan sebagai pasien dengan gejala hebat, dia mengatakan sepatah kata kepadaku.
"Jaga dirimu baik-baik," suara ayah rintih sebentar, kemudian hilang.
Lima hari keadaan ayah tak kunjung membaik, gulanya makin tinggi, dan trombositnya menurun. Ayah juga memerlukan donor plasma golongan darah AB penyitas covid-19.
Sayangnya, sebelum ayah mendapatkan donor darah, dia dipanggil Tuhan. Aku yakin Tuhan segera memanggil ayah agar orang yang aku cintai di dunia ini tidak sakit terlalu lama.
Namun, hatiku kembali teriris lantaran ketika ayah meninggal, aku tidak di sana. Aku dinyatakan positif tepat sehari sebelum ayah pergi.
CT ku mencapai 15, virus itu sedang ganas-ganasnya di tubuh. Aku hanya bisa pasrah dan melihat wajah ayah yang terakhir kalinya di video call.
Selamat tinggal ayah, Tuhan lebih sayang ayah dan mau menjagamu. Aku disini ingin berjuang untuk meraih cita-citaku yang dirindukan oleh ayah. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News