Kisah Mualaf: Aku Percaya Semua Agama Baik, dan Islam Jiwaku

29 April 2021 08:50

GenPI.co - Namaku Ni Putu Dina Puspita Sari. Setelah memeluk agama Islam, aku pun memiliki nama lain. Yaitu Sarah Nur Aulia Hilma.

Ini lah perjalananku menjadi mualaf, susah dan senang aku hadapi, walau sering kali aku makan sendiri.

BACA JUGAKisah Mualaf: Gue Masuk Islam Setelah Bosan Terlena Nikmat Dunia

Sejak menjadi mualaf, aku sangat terbiasa untuk buka puasa sendirian. Sebab, di rumah hanya aku satu-satunya yang memeluk agama Islam.

Tidak hanya itu, aku juga selalu mempersiapkan sahur sendirian dan menyantap makanan sendirian. 

Walaupun terkadang sedih, namun aku tetap tegar karena memang inilah yang harus aku hadapi.

Kendati demikian, aku selalu menunggu-nunggu waktu berbuka puasa. Bukan hanya karena lapar dan haus, tetapi karena ini adalah saat di mana aku bisa makan bersama teman-temanku.

BACA JUGAKisah Mualaf: Aku Masuk Islam Setelah Jenuh Kehidupan Malam

Pernah suatu hari, ketika sesampainya aku di rumah, aku tak menemukan satu pun hidangan untukku. 

Entah faktor kesengajaan atau bukan, namun aku sangat yakin meja makan ini tidak pernah kosong sebelumnya.

Padahal, mamaku biasanya tidak pernah kurang masak nasi. 

Karena aku tidak ingin marah, lantas aku membeli nasi goreng atau lauk di warteg untuk aku santap ketika berbuka atau sahur.

Saat sahur, aku selalu makan sendirian di kamar. Rasanya seperti anak indekos yang tinggal di rumah.

Kini aku sudah menikah, dan memiliki anak.

Aku sangat rindu dan menanti Ramadan tahun ini. Sebab, aku baru saja melahirkan pada tahun lalu, dan tidak diperbolehkan berpuasa karena masa nifas.

Saat ini aku sangat merindukan salat tarawih di masjid At-Tin Taman Mini karena di sana ada seorang imam yang memiliki suara merdu.

Tidak hanya itu, aku juga rindu untuk pulang dan berpuasa di rumah orang tua. 

Walaupun banyak kenangan pahit, namun semenjak aku menikah, kedua orng tuaku memiliki sikap yang berbeda terhadapku.

Bahkan, mama selalu menyediakan banyak sekali takjil saat berbuka puasa. Duh, senangnya.

Mengenai alasan ketertarikan aku terhadap Islam, dikarenakan aku selalu merasa bahwa Islam adalah jiwaku. 

Hal ini sangat mirip seperti menemukan cinta, dan aku percaya semua agama mengajarkan hal baik. (*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Linda Teti Cordina Reporter: Panji

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co