Kisah Ivone Nikmati Cap Go Meh di Singkawang

06 Maret 2018 09:46

Guys, kalo lagi hoki emang nggak bakal kemana-mana. Si Ivone Suryani ini misalnya. Anggota GenPI cabang Sumatera Selatan ini seolah mendapat durian runtuh setelah fotonya memenangi lomba yang diadakan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional. Hadiahnya adalah traveling ke Singkawang. Nah, yang bikin Yvone makin senang adalah waktu traveling berbarengan dengan penyelenggaraan Cap GO Meh 2018. Ia tinggal duduk manis aja lantaran semua biaya traveling beserta akomodasinya ditanggung penyelenggara lomba.

Dari Palembang, Ivone terbang ke Singkawang pada 28 Februari 2018. Di Bandara Internasional Supandi, Pontianak, beberapa orang dari GenPI sudah siap untuk mengantarnya ke Singkawang. Perjalanan darat selama 3 jam bagai tak terasa. Ia dan teman-teman barunya sibuk ngobrol tentang segala hal.

Langit Singkawang mulai gelap ketika Ivone dan teman-teman GenPI sampai di kota ini. Mereka langsung bergegas Kantor Walikota Singkawang, mengejar Pawai Lampion yang mulai berjalan. Suasananya ramai banget ,guys.  Masyarakat begitu antusias merayakan Cap Go Meh di sini.

Beragam penampilan ada pada iringan pawai, ada liong, barongsai, dan tidak lupa patung anjing tanah yang melambangkan shio tahun Cina saat ini. Bahkan ada peserta yang berpenampilan ala hantu Cina. Kamera pun diarahkan pad airing-iringan itu, menjepret setiap momen unik yang bisa ditangkap. Larut dalam lautan manusia yang happy menikmati suguhan yang ada, Ivone dan teman-temannya  bahkan berjalan mengikuti pawai.

Ada satu hal yang membuat Ivone  salut ketika melihat pawai ini, guys. Pasalnya pada barisan paling belakang ada dua truk sampah dan 32 petugas kebersihan yang ikut bergerak pelan mengikuti iring-iringan pawai. Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan dan Pertamanan yang dikepalai Bapak H. Rustam Effendi ini bergerak sigap, berperan sebagai tim sapu jagat. Pawai selesai, sampah pun lenyap. Keren, kan? Harusnya daerah lain mencontoh Singkawang ya guys. Jadi selepas acara, tidak ada sampah yang bertebaran.

Parade Tatung.

Guys, acara yang juga dinanti-nanti oleh  masyarakat Singkawang maupun wisatawan adalah Parade Tatung. Parade ini adalah tradisi tahunan yang memadukan budaya Tonghoa dan Dayak. Namun pada sehari sebelumnya, ada sebuah ritual unik yang dilakukan. Namanya Ritual Cuci Jalan. Dalam ritual yang diadakan di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya itu, dipanjatkan permohonan  restu dari para arwah untuk menyucikan jalanan kota dari pengaruh buruk, terutama jalan-jalan yang akan dilalui para Tatung saat acara puncak.

Ivone mengaku  mengalami peristiwa ekstrim yang  saat menyaksikan Ritual Cuci Jalan itu. Ia disodori tubuh seekor anak anjing tanpa kepala, dengan darah segar yang terus mengalir, oleh seorang Tatung yang sudah kerasukan. Bau amis darah tercium. Alih-alih menjadi kapok karena takut, ia tetap berada di sekitar vihara. Baginya, ini adalah budaya yang menarik untuk diketahui.

Parade Tatung dilaksanakan pada Hari Jumat (2/3), pukul 08.25 WIB. Pembukaan dilakukan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin didampingi Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, di Panggung Kehormatan Jalan Diponegoro, ditandai dengan pemukulan Tambur.

Sekadar info, tatung adalah sosok orang yang menjadi media bagi roh leluhur dengan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang ‘pilihan’, yang mau tidak mau, tidak dapat mengelak bila telah dipilih oleh para leluhur.

Tatung-tatung mulai berjalan melintasi jalanan Kota Singkawang. Penampilan para Tatung ini menarik perhatian karena mengenakan busana dengan warna mencolok dan asesoris berupa senjata tajam yang panjang dan besar. Ekspresi wajah mereka kaku dengan sorot mata nanar atau bahkan tatapan  kosong.

Pada mereka ada senjata tajam. Alih alih dipegang, senjata tersebut malah ditusukkan di pipi atau bibir. Ivone merasa ngeri, tapi tetap aja nggak kapok. Ada asesoris yang memang telah mereka kenakan sebelum pawai dimulai, ada juga yang mengenakannya di lokasi pawai, semacam atraksi. Hebatnya, nggak berdarah lho!

Nah, ada bukti nyata bagaimana toleransi kehidupan beragama di Singkawang begitu terjaga. Saat azan Sholat Jumat terdengar, pengurus vihara langsung memukul gendang yang menyerupai bedug dan serentak bunyi-bunyian pengiring Parade Tatung berhenti ditabuh. Keren, kan?

Empat rekor MURI

Tahu nggak guys, Perayaan Cap Go Meh di Singkawang ini menyabet empat rekor MURI sekaligus, loh. Keren kan. Rekor itu adala pemasangan 20.607 lampion dengan lampu menyala di seluruh Kota Singkawang, membuat kota ini berpendar merah di malam hari. Jumlah ini memecahkan rekor tahun 2009 dengan 10.895 lampion. Rekor selanjutnya adalah  jumlah  1.129 Tatung didaftarkan untuk memecahkan rekor MURI sebelumnya. Pada tahun 2011 MURI juga mencatat ada 777 Tatung yang turut berpartisipasi.  Peserta tahun ini tidak hanya datang dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia. Tampak bendera Malaysia diantara bendera-bendera kelompok peserta Tatung yang dibawa saat parade. Bahkan ada Tatung yang masih kecil lho, usianya sekitar 5 tahun.

Grup Santo Yosef Singkawang juga menyabet rekor loh. Ini adalah  sebuah kelompok etnis Tionghoa Singkawang, yang membuat replika 9 naga dengan ukuran besar dan menjadi jumlah naga terbanyak selama perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Jumlah 9 sengaja dipilih karena bermakna keberuntungan. Sementara rekor terakhir adalah Gerbang Cap Go Meh terbesar di Indonesia, berukuran panjang 16,20 meter dan tinggi 6 meter. Gerbang yang dibuat menggunakan rangka besi ini diharapkan menjadi landmark Kota Singkawang kedepannya.

Kalian tertarik juga mendapat pengalaman dashyat seperti Ivone? Ini event tahunan, guys. Jadi kamu bisa merencanakan perjalanan ke sini jauh-jauh hari.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred
cap go meh   2018   singkawang   tatung   lampion   seru   GenPI  

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co