Uniknya Tradisi Sadranan Rejeban Plabengan di Lereng Gunung Sumbing

31 Maret 2019 18:39

GenPI.co - Ratusan warga Desa Cepit Watugunung, Kabupaten Temanggung, Jumat (22/3) lalu, melakukan Sadranan Rejeban Plabengan. Mereka melakukan ritual dengan membawa tenongan menuju ke makam sesepuh desa yang berada di Lereng Gunung Sumbing.

Menurut Kades Pagergunung Sukarman, sadranan ini dilaksanakan setiap hari Jumat Wage bulan Rajab penanggalan Jawa. Setelah itu, seluruh warga kemudian melakukan doa dan dilanjutkan makan bersama sebagai wujud kesyukuran atas anugerah Tuhan.

“Rejeban Plabengan merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan masyarakat Dusun Cepit dalam menyambut bulan Rajab dalam penanggalan Jawa,” terangnya.

Dijelaskan, lokasi Tradisi Rejeban Plabengan berada di Dusun Cepit atau tepatnya Bukit Plabengan Lereng Gunung Sumbing yang menjadi petilasan Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan merupakan pepunden desa dan salah satu penyiar agama Islam di daerah Temanggung.

Baca juga: Serunya Melintasi Pedesaan Dalam Gelaran Banyuwangi Marathon

Dalam sejarah yang diceritakan beliau konon merupakan penerus Walisongo pada kisaran abad ke 16-17. Karenanya, untuk mengingat jasa Ki Ageng Makukuhan, setiap tahun digelar ritual syukuran ini.

Foto: Guswahid

“Di dalam setiap tenong warga berisi nasi tumpeng, pisang, ingkung ayam, dan lauk pauk lainnya,” tukasnya.

Ditambahkan, Desa Pagergunung merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Temanggung. Adapun Dusun Cepit merupakan salah satu jalur pendakian ke puncak Gunung Sumbing.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Woro Andijani menambahkan ritual di Dusun Cepit ini cukup menarik bagi wisatawan. Atraksi membawa makanan warga menggunakan tenong, dinilainya sangat khas dan unik.

"Jadi sangat unik dan khas, saat mereka berangkat atau pulang dari Bukit Plabengan, barisan warga yang memikul tenong tersebut menjadi bidikan para fotografer, apalagi panorama di sekitar berupa ladang sayuran dengan latar belakang gunung sehingga menarik sekali," katanya.

Ia menuturkan pengunjungnya dari tahun ke tahun terus bertambah, bukan hanya dari warga Temanggung saja, tetapi dari daerah lain, bahkan ada turis dari Prancis. Ia menyebut tradisi Rejeban Plabengan tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu, yakni untuk tumpengan besar tahun lalu hanya satu buah, saat ini ada tujuh buah tumpengan besar dari tujuh Rukun Tetangga (RT) di Desa Pagergunung.

Tradisi ini diawali dengan kegiatan pengambilan air di wilayah Gunung Sumbing oleh tujuh orang utusan Dusun Cepit. Kemudian malamnya digelar tahlilan obor, shalawatan dan setelah Rejeban Plabengan selesai dilanjutkan pentas kesenian tradisional.


Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Cahaya

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co