Tak hanya populer dengan kemegahan candi Borobudur saja, kabupaten Magelang nampaknya menyimpan beragam potensi wisata yang wajib diketahui. Dikenal sebagai kota bunga, Magelang juga memiliki keragaman budaya dan tradisi adat peninggalan leluhur. Tradisi tersebut hingga saat ini pun masih dilestarikan oleh warga.
Lalu apa saja keunikan tradisi adat dari wilayah di provinsi Jawa Tengah tersebut? Berikut 4 ulasan yang perlu diketahui seperti dilansir dari berbagai sumber.
Sedekah Candi Gunung Wungkir
Pernah ke Candi Gunung Wukir? Situs ini menjadi lokasi ditemukannya prasasti tertua di Indonesia. Setiap setahun sekali, warga mengadakan ritual di Situs Gunung Wukir. Tujuannya, selain mengungkapkan rasa syukur, juga sebagai sarana mengenalkan prasasti yang ada di sana.
Ritual sedekah diawali dengan acara arak-arakan kelilingi desa. Warga yang ikut boleh menggunakan sepeda motor saat acara arakan. Setelah itu, mereka berhenti di sebuah kawasan, tempat upacara. Di sana sudah ada gunungan tumpeng beserta lauknya, tamu undangan, dan ketua panitia yang bersiap memulai ritual.
Sungkem Tlompak
Sungkem tlompak merupakan tradisi yang digelar oleh warga Desa Banyusidi yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Mereka mengadakannya setiap momen Idul Fitri untuk mengirim doa dan memohon keselamatan kepada Yang Mahakuasa.
Tradisi sungkem tlompak dirayakan dengan menyajikan tumpeng beserta lauknya. Ada juga sesajen kembang, sayuran, dan buah-buahan. Beberapa orang yang ikut dalam acara ini mengenakan kostum tradisional, seperti kostum penari topeng dan Gatotkaca.
Semua sesajen dan tumpeng lantas diarak menuju sumber mata air Tlompak. Proses arakan dimulai dengan tarian topeng, geculan bocah, dan gupolo gunung. Saat tiba di sumber mata air, sesepuh akan memimpin doa.
Ruwat Bumi di Gunung Tidar
Jika biasanya gunung terletak di kawasan bukit, kali ini berada di tengah Kota Magelang. Itulah Gunung Tidar—yang disebut sebagai “pakunya tanah Jawa”. Tinggi Gunung Tidar hanya 503 Mdpl. Namun, untuk menuju ke puncaknya, perlu melewati ratusan anak tangga.
Nah, di Gunung Tidar terdapat ritual yang dikenal dengan ruwat bumi. Acara ini dihadiri oleh masyarakat sekitar. Mereka mengenakan pakaian tradisional saat datang ke Gunung Tidar. Selain itu, tiap perwakilan kelurahan atau desa harus membawa tumpeng dan lauknya. Ada dua tumpeng yang disajikan, yakni tumpeng lanang dan wadon.
Ritual Pradaksina
Pradaksina diselenggarakan di Candi Borobudur saat matahari terbit. Ritual ini dilakukan oleh para biksu. Mereka mengenakan topi merah berbentuk jambul sambil berputar mengelilingi candi sebanyak tiga kali.
Sebagian dari mereka bertugas meniup terompet dan kerang serta membawa bunga teratai berbahan kertas. Bunga itu berisi lilin yang menyala. Usai ritual pradaksina, bunga teratai diletakkan di tepi candi.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News