Wisata ala Penggiat Lingkungan: Tanam Mangrove

05 Agustus 2019 15:34

GenPI.co – Bagaimana para aktifis dan penggiat lingkungan di Gorontalo menikmati wisata yang berkualitas?

Ternyata mereka memilih membuat kenang-kenangan dengan menanam bibit bakau di pesisir pantai dan menempuh perjalanan laut menuju sebuah pulau yang tidak berpenghuni.

Sebagian dari 1500 bibit pohon bakau ditanam di pesisir perkampungan Suku Bajau Serumpun di Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato, Gorontalo oleh penggiat lingkungan. Sebagian besarnya ditanam oleh masyarakat, komunitas, pemerintah dan siswa secara beramai-ramai selama 2 hari, Sabtu-Minggu (3-4/8/2019).

Mereka menanam 2 jenis bibit bakau, Rhizophora mucronata 900 bibit atau 60 persen dan 600 bibit atau 40 persen jenis Rhizophora stylosa.

“Kami secara bergotong-royong menanam bibit bakau dengan melibatkan Bappeda Kabupaten Pohuwato, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Pemdes Torosiaje Jaya, Torosiaje Laut, dan Bumi Bahari, Mahasiswa UNG, IAIN, UNU, Univiversitas Pohuwato, Perkumpulan BIOTA, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), SalamPuan, Yascita, FRM Pohuwato, Siswa SD, SMP, SMK Popayato dan masyarakat. Semuanya terlibat,” kata Nurain Lapolo, Direktur Jaring Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), Senin (5/8).

Baca juga:

Festival Kelapa, Upaya Petani Bangun dari Keterpurukan

Ledakan Besar Terjadi di Kairo, 19 Orang Tewas

Dengan cara menanam bibit bakau ini para penggiat lingkungan memberi manfaat bagi pelestarian alam, meningkatkan kualitas udara dan seaktu-waktu pohon bakau yang ditanam bisa dilihat lagi pada saat berwisata kembali.

“Kalau ada yang mati, bisa disulam dengan bibit baru. Sehingga kunjungan kami tidak sia-sia,” ujar Nurain Lapolo.

Mengapa menanam bibit bakau? Para penggiat lingkungan memberi alasan pentingnya menjaga kawasan konservasi untuk mendukung kualitas kehidupan manusia. Hutan bakau memberi manfaat ketersediaan hasil non-kayu seperti tanin atau bahan pewarna dan kosmetik, menjadi habitat ikan dan satwa seperti tempat berkembangnya kepiting, udang, siput dan ikan lainnya. Ini membentuk ekosistem yang saling terkait. Jika hutan bakau lestari, maka daya dukung kehidupan manusia juga lestari.

Hutan bakau juga sebagai tempat burung yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata birdwatching, wisata jenis ini sangat mahal dan digemari oleh wisatawan mancanegara. Mereka mau mengeluarkan uang ekstra agar dapat melihat burung disukainya.

“Wisata birdwatching sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan, hasilnya signifikan,” ujar Siti Rohana Lakadjo, peserta wisata tanam bakau.

Dalam liburan di Desa Torosiaje laut ini, penggiat lingkungan juga melakukan edukasi pengelolaan sampah dan bakau bagi siswa SD dan SMP setemoat. Siswa diajari praktek pemilahan sampah organik dan non organik, pesertanya 35 siswa dan 5 guru.

Hal lain yang dilakukan adalah membantu mempromosikan produk olahan hasil tangkapan laut berupa abon ikan, ikan garam, dan lainnya yg langsung habis terjual oleh peserta lain ikut menanam bibit bakau.

“Malamnya kami melakukan pemutaran film lingkungan bagi anak-anak SD dan SMP,” ujar Nurain Lapolo.

Yang menarik adalah mereka juga melakukan kunjungan ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau mungil ini memiliki pantai pasir lembut yang memanjang, mengelilingi setengah sisi pulau.

Mereka harus hati-hati memasuki pulau ini agar tidak menggangg satwa yang ada. Pengamatan satwa adalah yang paling seru, dengan menggunakan teropong (binokuler) mereka mencoba mencari burung, tikus atau lainnya di pulau ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co