Kala Kledung dan Kertek Melebur dalam Perayaan Persaudaraan

22 Juli 2019 07:50

GenPI.co - Antara Desa Kledung di Kecamatan Kledung  dan Desa Reco di Kecamatan Kertek di memang tidak ada batas fisik seperti gapura dan sebagainya. Padahal kedua desa yang bertetangga itu masing-masing berada di dua Kabupaten yang berlainan, yakni Wonosobo dan Temanggung.   

Namun ada pembeda kasat mata yang jelas ditemukan pada kedua desa itu. Meski sama-sama menggunakan bahasa Jawa, namun beberapa kosa kata terdengar berbeda. Diungkapkan Camat Kertek M Said, kebiasaan memanggil sampean atau anda dengan sebutan Samang di Temanggung ketika di Wonosobo (Kertek) berganti menjadi Deke.

“Namun secara potensi sebenarnya kawasan ini sangat mirip dan bahkan masih satu keluarga besar. Terbukti dari kebiasaan sehari-hari, cara bertani, hingga perayaan-perayaan yang relatif sama. Bahkan yang kami bawa untuk bertukar buah tangan atau bebana ini juga hampir sama,” ungkap M Said  saat ditemui di sela acara Festival Sindoro Sumbing (FSS), Sabtu (20/7).

Arak-arakan kirab budaya di Festival Sindoro Sumbing (Foto: Erwin)

Baca juga:

Bupati Wonosobo Resmikan Sindoro Sumbing Theme Park 

Seniman Indonesia - Vietnam Adu Karya Lukisan Borobudur 

Mengunji Adrenalin Pelari di Gunung Ijen 

Asik, Ganjar Gelontorkan Dana Rp 1 Miliar untuk Desa Wisata

Pertemuan kecamatan Kledung dan Kertek  sebelumnya diawali arak-arakan kirab budaya yang menjadi salah satu rangkaian Festival Sindoro Sumbing (FSS). Di panggung utama, lapangan Kledung, dua Camat bertemu dan bertukar buah tangan. Mulai dari buah seperti pisang, ubi dan singkong, hingga daun tembakau.

Pertemuan dua camat ini juga diisi pembicaraan yang kocak mengingat keduanya memakai dua logat yang berbeda dan diselingi candaan khas. Penonton pun terbawa suasana akrab itu. Camat Kledung Herman Santoso, menyebut sangat mengapresiasi agenda silaturahmi berbentuk arak-arakan budaya itu.

“Harapan kami, acara ini dapat ditingkatkan selain jalin silahturahmi juga berkolaborasi di bidang seni budaya dan yang lainnya demi kesejahteraan masyarakat. Kami juga menemukan bahwa kesamaan yang ada di dua wilayah sangatlah banyak. Bahkan seperti tiada bedanya. Potensi pertanian kedua wilayah juga kurang lebih sama, salah satunya tembakau hingga sayuran yang bertemu di pasar Kertek,” ungkapnya.

Sementara itu,  direktur Festival Sindoro Sumbing Wonosobo, Heri Pujiyanto mengatakan agenda itu awalnya hanya diharapkan bisa melibatkan masyarakat dari dua desa. Tapi ternyata animo masyarakat luar dan penonton, bahkan pengguna jalan sangat baik.

“Ada ribuan orang yang menonton arak-arakan, padahal tidak di-setting untuk pertunjukan. Ternyata banyak yang nyengkuyung seperti pihak Ansor-Banser dengan drumband, warga yang ikut kirab, hingga mengamankan jalan. Penonton juga dari siang menunggu dan sampai malam mengikuti rangkaian agenda. Ini kami nilai berhasil dan harapannya bisa diulangi lagi,” tutur  Heri.

Simak juga video menarik berikut

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co