GenPI.co – Siapa bilang tidak ada perayaan lebaran di Korea Utara? Di negara paling terisolir di dunia itu, ada nuansa Idul Fitri walau hanya secercah.
Pelaksanaan Salat Ied di Korea Utara dilaksanakan pada pada Rabu (5/6). Lokasinya di sebuah masjid di kompleks Kedutaan Besar Iran di Pyongyang. Salat Ied itu diikuti masyarakat Muslim asing yang bekerja di kedutaan besar asing, organisasi internasional, dan perusahaan telekomunikasi di Korea Utara.
Jangan tanya apakah ada warga lokal yang ikut Salat Ied. Jawabanya, tidak. Pasalnya mayoritas masyarakat Korea Utara adalah penghayat filsafat Juche. Sebagian kecil sisanya adalah penganut Shamanisme Korea, Cheondoisme, Budha dan Kristen.
Perayaan lebaran di Kota yang dipimpin oleh Kim Jong-Un kemudian dilanjutkan di KBRI Indonesia, Wisma Duta RI di Pyongyang. Dalam acara itu, Duta Besar RI untuk Korea Utara Berlian Napitupulu memperkenalkan tradisi mudik kepada sejumlah tamu yang hadir. para tamu tersbut adalah duta besar dan perwakilan kedutaan besar negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Baca juga:
Kala WNI di Mesir 'Mudik' ke KBRI Kairo
Tak Mudik? Sambangi Tempat Wisata di Jakarta ini
Di kesempatan itu, Dubes Berlian menjelaskan ritual mudik yang terjadi di Indonesia menjelang Ramadhan. Para tamu yang terdiri dari dubes Palestina, Suriah, Iran, dan perwakilan kedubes Nigeria, mendengar dengan kusyuk. Sebab mereka tam memiliki tradisi tersebut di negara masing-masing.
"Puluhan juta penduduk berbagai kota rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan puluhan jam untuk berlebaran di kampung halaman. Tetapi tahun ini waktu tempuhnya sudah jauh lebih singkat karena ada jalan tol baru sepanjang Pulau Jawa,” tutur Dubes Berlian dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/6).
Perayaan lebaran di KBRI Pyongyang salah satu dari upaya untuk mempromosikan Indonesia di Pyongyang. Mulai dari kuliner, batik, kebiasaan yang dilakukan saat berlebaran. Pun nilai-nilai toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Semakin meriah, acara tersebut dilengkapi dengan sajian khas Nusantara. Ada lontong sayur, opor ayam, bakso, dan rendang.
Penganan khas Indonesia lainnya yaitu siomai, rangginang, dan es buah juga sangat digemari oleh para tamu undangan, termasuk para dubes negara anggota OKI dan masyarakat Indonesia di Pyongyang.
”Kita ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda pada tahun ini dengan menyajikan makanan Indonesia pada open house yang mengundang seluruh duta besar negara anggota OKI di Korea Utara,” ujar Dubes Berlian.
Sementara itu, istri Duta Besar RI, Ibu Elisabeth Napitupulu mengatakan bahwa menyajikan makanan untuk Idul Fitri di Korea Utara bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, ketersediaan bumbu-bumbu khas Indonesia di negara itu sangat terbatas.
“Sebagian bumbu harus kami datangkan dari Hong Kong dan Thailand,” katanya.
Sebagai pihak penyelenggara, pihak KBRI juga harus memastikan kehalalan bahan makan yang dimasak sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat Muslim dan tamu undangan.
"Daging halal didapatkan dari pemotongan sendiri atau toko-toko tertentu di Pyongyang,” imbuh Elisabeth.(ANT)
Simak juga video menarik berikut
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News