Pariwisata Indonesia Kian Melesat

27 Juni 2018 21:50

Tiga tahun terakhir, capaian pertumbuhan sektor pariwisata mengesankan.Sumbangan devisa dan penyerapan tenaga kerja dari sektor ini meningkat signifikan. Reputasi Wonderful Indonesia di pentas dunia pun terus memancarkan optimisme.

Dalam rapat terbatas di Istana Bogor beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla membahas juga masalah pariwisata. Rapat terbatas ini digelar karena pariwisata Indonesia ini dapat menyedot wisatawan mancenegara dalam jumlah besar

Menurut Presiden, pariwisata Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik perhatian wisatawan dari luar negeri. Ia meyakini, potensi pariwisata Indonesia itu dapat digenjot dengan menggelar event-event pariwisata nasional diperbanyak. “Dengan demikian, wisatawan berdatangan dan dapat mendongkrak roda perekonomian di lokasi wisata tersebut,” tutur Jokowi.

Presiden meyakini, sektor pariwisata Indonesia yang sangat menjanjikan. Selain itu  akan menimbulkan multiplier effect yang positif terutama di bidang perekonomian. “Untuk itu, diperlukan strategi agar pariwisata kita lebih baik lagi,” katanya.

Berdasarkan riset Bank Dunia, pariwisata menjadi salah satu bisnis utama atau “core business” Indonesia. Pariwisata menjadi penyumbang PDB, devisa serta lapangan kerja paling besar dan mudah.

Pada 2016, devisa pariwisata mencapai US$ 13,5 miliar per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 15,9 miliar per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar.

Saat itu, pariwisata di bawah sektor migas sebesar US$ 18,5 juta, CPO US$ 16,4 juta, dan batubara US$ 14,7 juta. Namun akibat jatuhnya harga migas dan batu bara, konstelasi sektor penyumbang devisa berubah. CPO menjadi raja dan pariwisata menyodok ke atas sektor migas dan batubara.

Tahun 2017, sumbangan devisa dari sektor pariwisata melesat menjadi sekitar US$ 16,8 miliar. Angka ini diprediksi akan meningkat 20% menjadi sekitar US$ 20 miliar pada 2018.

Semakin melesatnya sektor pariwisata, tidak terlepas dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman terus naik.

Pada 2017, wisman yang berkunjung sebanyak 14,04 juta, naik 21,88 persen dari tahun 2016 yang berada dikisaran 11,52 juta pengunjung.

CEO Commitment yang ditunjukkan presiden selama memimpin kabinet kerja menjadi factor utama melesatnya pariwisata Indonesia. Dalam memimpin kabinet kerja, Presiden tak ragu menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan sekaligus core ekonomi bangsa.

Presiden bahkan ikut memberi komando lewat penetapan 10 destinasi prioritas, atau yang sering dipopulerkan dengan istilah 10 Bali Baru.Ke-10 Destinasi Prioritas itu adalah Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Bangka Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Borobudur di Joglosemar, Bromo-Tengger-Semeru Jawa Timur, Mandalika di Lombok, Komodo Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Morotai Maltara.

Point berikutnya, presiden sudah hadir langsung di banyak destinasi wisata. Kawasan yang pernah didatangi Presiden Jokowi adalah Raja Ampat, Morotai, Labuan Bajo, Larantuka, Mandalika, Borobudur, Tanjung Lesung, dan Danau Toba.

Sejumlah kegiatan karnaval, juga dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi. Seperti Karnaval Khatulistiwa 2015 di Pontianak, Pesona Danau Toba 2016 di Sumut, Karnaval Parahyangan Bandung 2017 hingga Pesta Kesenian Bali 2016 dan 2018. "Itu menunjukkan komitmen yang tinggi dari Presiden Jokowi terhadap dunia Pariwisata,” kata Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Djunaedi, Rabu (27/6).

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co